
Wagub Jatim Emil Dardak bersama sejumlah pejabat dan akademisi membahas penyelamatan Sungai Brantas dalam Rapat Kerja Teknis Pengelolaan DAS Brantas berbasis landscape–seascape di Sidoarjo. (Istimewa)
JawaPos.com-Sungai Brantas yang membentang lebih dari 320 kilometer dan menjadi sumber kehidupan lebih dari 17 juta jiwa di Jawa Timur kini menghadapi ancaman serius. Penelitian Universitas Brawijaya periode 2012–2021 menunjukkan hampir semua parameter kualitas air, seperti BOD, COD, ammonia hingga coliform, berada pada kategori tercemar berat.
Pencemaran diperparah dengan deforestasi dan alih fungsi lahan di bagian hulu serta limbah industri dan sampah domestik di hilir. Kondisi ini berpotensi menimbulkan banjir, kekeringan, hingga krisis air bersih jika tidak segera ditangani.
Ancaman itu menjadi fokus dalam Rapat Kerja Teknis Pengelolaan DAS Brantas di Sidoarjo, Selasa (16/9), yang dihadiri perwakilan pemerintah, akademisi, dan praktisi lingkungan. Kepala Pusdal LH Jawa, Eduward Hutapea, menyebut perlunya paradigma baru. “Rapat koordinasi ini menyamakan persepsi dalam pengelolaan DAS Brantas secara kolaboratif, berbasis landscape sampai dengan seascape,” ujarnya.
Pendekatan landscape–seascape ini memperluas sudut pandang, tidak hanya memandang hulu-hilir, tetapi juga mengintegrasikan ekosistem dari pegunungan hingga wilayah pesisir dan laut.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menekankan pentingnya pengelolaan menyeluruh. “Hulu, tengah, dan hilir harus dikelola utuh. Tidak mungkin menyelamatkan hilir jika hulu terus dibiarkan rusak,” kata Emil. Ia mencontohkan pilot project biogas di Pasuruan yang mengolah kotoran ternak, sampah, dan limbah pertanian agar tidak mencemari sungai.
Guru Besar Universitas Brawijaya, Prof. Eko Ganis Sukoharsono, menyebut sinergi antar sektor menjadi kunci perbaikan, sementara Dr. Sonny Kristiyanto dari Universitas Airlangga menegaskan peran vital Brantas di hilir sebagai sumber air minum bagi masyarakat.
Kepala Bidang Wilayah III Pusat Pengendalian LH Jawa, Gatut Panggah Prasetyo, menegaskan ada empat pilar penyelamatan yang harus segera dijalankan: pemulihan lahan kritis, pengelolaan sampah domestik, pembinaan industri agar taat aturan, dan penegakan hukum tegas terhadap pelanggaran. “Dengan empat langkah ini, penyelamatan Brantas bisa lebih terukur dan berdampak nyata,” tegasnya.
Forum tersebut menghasilkan kerangka strategi besar dengan jargon landscape–seascape. Namun, semua pihak sepakat bahwa eksekusi di lapangan adalah penentu. Tanpa konsistensi kebijakan dan keberanian menegakkan hukum, Sungai Brantas akan terus terjebak dalam pencemaran. (*)

Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 MenitÂ
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Menteri PU Dody Hanggodo Ungkap 10.000 Pegawai Terindikasi Judol dan Masalah Absensi
Kompak Turun, Berikut Daftar Harga Terbaru BBM Pertamina hingga Shell
Profil Valentin Barco! Pemain Argentina Ditempeleng Jude Bellingham Usai Inggris Tersingkir di Semifinal Piala Dunia 2026
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
