Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Mei 2025 | 16.35 WIB

Pasien DBD Peserta BPJS Telat Ditangani di ICU, Rumah Sakit Beralasan Belum Gawat Darurat, Lalu Meninggal Dunia

ILUSTRASI: Penanganan pasien DBD di salah satu rumah sakit di Surabaya. (Juliana Christy/JawaPos.com).

JawaPos.com - Tiga kasus anak meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD) diduga telat dibawa ke rumah sakit karena belum gawat darurat. Sesampainya di rumah sakit, tak hanya gawat darurat lagi, melainkan kritis di ICU. Kasus itu hanya segelintir dari sederet rumitnya memanfaatkan layanan kesehatan gratis.

Jawa Pos menerima cerita dari beberapa pasien yang terdampak sistem tersebut. Seperti RA yang dirawat pada Maret lalu dengan keluhan demam disertai kejang.

Saat itu, pasien balita tersebut dibawa ke IGD rumah sakit swasta di Kota Pudak dan disarankan untuk opname. Hasil laboratorium pun menunjukkan leukosit tinggi. Namun kondisi tersebut belum bisa berobat dengan program jaminan kesehatan nasional (JKN). “Alasannya kejam demam tidak di-cover dan panasnya tidak sampai 40 derajat,” ucap Aldi, orang tua pasien.

Seorang tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas punya cerita lain. Sebut saja Bagus, dirinya pernah melakukan rujukan pasien gastritis ke rumah sakit swasta dan diterima hingga opname beberapa hari. “Saat itu pasien sudah stabil dan pulang,” ucapnya.

Namun selang beberapa waktu penyakit lambungnya itu kambuh. Pasien sampai muntah-muntah. Bagus mengaku bahwa saat kambuh pasien datang ke puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). “Kami periksa, lalu akan kami rujuk ke rumah sakit yang sama karena ada riwayat opname di sana. Namun ditolak, padahal pasien dan penyakitnya sama,” ujarnya.

Sementara itu, Bunga seorang nakes di rumah sakit swasta menyebut bahwa meski sudah sesuai alur, yakni atas rujukan FKTP lalu didiagnosa kembali oleh dokter rumah sakit, kenyataannya terdapat klaim yang tidak layak bayar. Seperti demam berdarah, demam dengan pemberatan jantung. “Iya klaim itu dinyatakan tidak layak bayar, padahal sudah sesuai,” katanya.

Kasus meninggal tidak hanya menimpa pasien DBD, beberapa waktu lalu seorang warga berusia 60 tahun dibawa ke rumah sakit jam 12 malam. Setelah diobservasi, waktu subuh pasien tersebut disuruh pulang karena pengobatan tidak bisa dijamin. “Besoknya itu pasien tidak sadarkan diri dan dibawa ke puskesmas. Sama puskesmas dirujuk ke rumah sakit dan meninggal,” jelas Abdul.

Tiga nyawa anak usia SD melayang akibat demam berdarah dengue (DBD) sejak awal bulan. Kamis (15/5) lalu, anak dari kecamatan Gresik kembali menjadi korban. Dia meninggal setelah dirawat di ICU semalam.

Anak yang masih duduk di bangku kelas V SD itu dirujuk ke rumah sakit pada Rabu (14/5). Setelah lima hari demam akibat DBD. Datang ke rumah sakit dengan kondisi sudah dengue shock syndrome (DSS). Trombositnya sudah cukup rendah di angka 17 ribu. Kesadarannya pun sudah menurun.

Lantas pihak rumah sakit langsung melakukan tindakan cepat. Pasien tersebut langsung dirawat di ICU. Namun sehari dirawat, bocah sekitar 10 tahun itu dinyatakan meninggal. “Sempat dilakukan pijat jantung, transfusi darah, dan pemberian cairan. Meninggal di ICU,” ucap seorang perawat rumah sakit.

Meninggalnya AA itu menambah rentetan kasus meninggal DBD dalam sebulan terakhir. Sebelumnya, IA anak kelas V SD meninggal dengan kronologis yang hampir sama. Di mana IA saat itu sedang demam. Dibawa ke rumah sakit swasta di wilayah kota. Karena menjurus ke DBD, darah dilakukan uji laboratorium. Namun hasilnya belum mengarah ke DBD.

IA pun lalu dibawa ke puskesmas untuk dilakukan perawatan. Setelah diberi perawatan, kondisinya mulai stabil dan pulang. Namun selang beberapa hari kondisinya kembali memburuk.

IA lantas dibawa ke RSUD Ibnu Sina pada Minggu (4/5) lalu. Karena kondisinya sudah memburuk, IA lantas langsung masuk ke ICU. “Sampai RSUD itu kondisinya sudah berat, jadi langsung masuk ke ICU,” ucap Wakil Direktur Pelayanan Medik RSUD Ibnu Sina dr Irma Wesprimawari SpPD.

Satu anak lagi meninggal di rumah sakit. Siswa kelas III itu langsung dibawa ke rumah sakit karena kondisinya sudah memburuk. (son)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore