
Bhante Jayamedho menyampaikan beberapa pemikiran di Kajian Lintas Agama
JawaPos.com - Young Buddhist Association bersama Rumi Institute menggelar kajian lintas agama bertema “Religion of Love” perspektif agama Islam dan Buddha, Minggu (7/5) sore. Kajian yang dilakukan di Voza Coworking Space itu menghadirkan dua narasumber atau dua tokoh dari dua agama. Keduanya adalah Bhante Jayamedho Thera yang merupakan Pimpinan Sangha Theravada Indonesia Provinsi Jawa Timur serta Dewan Pelindung Young Buddhist Association dari agama Buddha, dan Muhammad Nur Jabir yang merupakan Direktur Rumi Institute dari agama Islam.
Acara itu dipandu langsung oleh Koordinator Relasi Sangha Vesak Festival, Defri Pranata. Acara yang membahas tentang Cinta dalam Agama itu merupakan konsep yang pertama kali digelar di Indonesia dengan diskusi lintas agama Buddha dan Islam tentang karya Jalaluddin Rumi, seorang penyair Sufi asal Persia yang ditafsirkan dalam acara moderasi beragama yang sama-sama memiliki semangat kebaikan kepada sesama dengan cinta yang besar.
Acara diikuti oleh lebih dari 100 peserta baik dari agama Buddha maupun non-Buddha. Pada kesempatan itu, Tokoh Agama Buddha Bhante Jayamedho menjelaskan bahwa dengan lepasnya identitas seseorang, maka dengan sesama akan bisa menemukan kebenaran murni, kebenaran yang diperoleh beyond the religion (di luar batas sekat agama).
"Nah, Rumi mengatakan Aku Bukanlah Orang Nasrani, Aku Bukanlah Orang Yahudi, Aku Bukanlah Orang Majusi, Aku Bukanlah Orang Islam. Keluarlah! Lampaui Gagasan Sempitmu Tentang Benar Dan Salah Sehingga Kita Dapat Bertemu Pada 'Suatu Ruang Murni' Tanpa Dibatasi Prasangka Atau Pikiran Yang Gelisah," kata Bhante yang mengutip puisi dari Rumi.
Menurutnya, perlu adanya tanggung jawab sebagai pemeluk agama untuk mempertanggungjawabkan agama itu bisa dipakai untuk perdamaian bukan untuk kekerasan (violence). Bagi dia, apabila agama dipakai dengan alasan penertiban sosial dan peraturan agama membuat kekerasan terhadap umat manusia lainnya, maka disitulah agama dipakai oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Seharusnya umat beragama memberikan cinta murni kepada alam semesta agar menghasilkan harmoni dan perdamaian seperti matahari yang selalu senantiasa menyinari bumi ini karena cinta murninya. Oleh karena itu, saya setuju dengan ucapan dari Mahatma Gandhi yaitu God is Love,” ujarnya.
Di agama Buddha, ada ajaran cinta tidak bersyarat (unconditional love), dimana seseorang bisa mencintai dengan tidak beresiko dan tidak menderita hanya karena adanya syarat-syarat yang tidak dipenuhi.
"Pada saat sekarang ini pun, umat Buddha bisa berbahagia bukan karena dicintai tetapi memberikan cinta. Apabila kita meminta untuk dicintai maka adanya penderitaan siap mengikuti apabila tidak sesuai dengan harapan kita dan syarat-syarat yang kita inginkan," imbuhnya.
Oleh karena itu, melalui pertemuan dan kajian ini Bhante berharap dapat menyadarkan semua elemen masyarakat. "Semoga kita tercerahkan bahwa Tuhan merupakan agama dari pecinta bukanlah orang yang suka menggunakan agama untuk kekerasan. Kejahatan seharusnya dibalas dengan kebaikan, ubahlah marah menjadi ramah,” tegasnya.
Sementara itu, tokoh agama Islam Muhammad Nur Jabir juga menjelaskan agama Islam dalam tafsirannya melalui karya penyair Sufi, Rumi, menegaskan bahwa dalam menerapkan ajaran agama, kiranya umat beragama seharusnya menerapkan Kasih dan Sayang (Ar Rahman dan Ar Rahim).
"Nah, ketika umat Islam mau melakukan sesuatu sering mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim, setiap langkah perbuatannya selalu diikuti kasih dan sayang. Namun mirisnya adalah banyak yang belum mengimplementasikan dua sifat itu meski sudah mengucapkan kata Bismillahirrohmanirrohim. Inilah tanggungjawab kita bersama,” tegasnya.
Menurutnya, saat ini tidak hanya di negara maju, di Indonesia pun khususnya di daerah perkotaan yang memiliki kemudahan mengakses informasi, banyak orang yang memilih menjadi Atheis. “Tren atheis meningkat di Indonesia, hal ini disebabkan orang saat ini mendapatkan pengalaman spiritual yang sesuai dengan kebutuhan sehari-harinya bukan hanya menjalankan perintah agama," katanya.
Meski begitu, ia pun menyadari bahwa hidup itu adalah proses, dalam tafsiran Sufi, umat beragama seharusnya jauh dari kekerasan dan akan menuju ke tahap kebijaksanaan. “Ketika kita sudah menjalankan ajaran agama, kita akan perlahan melepaskan duniawi lalu masuk ke dalam tahap Kebatinan lalu ke tahap Fana serta akhirnya kita menuju Arifa,” katanya.
Wakil Ketua Young Buddhist Association Limanyono Tanto, Wakil Ketua YBA mengatakan pertemuan dan silaturahmi semacam ini sangat perlu dihadirkan di tengah-tengah muda-mudi Indonesia untuk saling mengenal antar ajaran. Tujuan akhirnya agar tercipta moderasi dan tenggang rasa antar umat beragama.
"Nah, dari situlah kami berharap rasa persaudaraan dan rasa saling menjaga sebagai saudara antar sesama manusia atas nama cinta," katanya.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
