JawaPos.com – Kecelakaan lalu lintas terjadi di perlintasan kereta api Tambak Mayor, Surabaya, Jumat (27/12) sore, melibatkan dua pengendara sepeda motor dan satu pengemudi becak motor (bentor). Insiden ini mengakibatkan dua orang meninggal dunia di tempat dan satu korban lainnya mengalami luka serius setelah terserempet kereta api.
Korban meninggal dunia adalah A.A. (45), seorang pria asal Jl. Lidah Kulon, Kelurahan Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri, dan J. (64), pengemudi bentor asal Dusun Polay Laok, Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang. Keduanya tewas seketika akibat benturan keras dengan kereta api yang melintas.
Sementara itu, korban selamat adalah M. (56), pria asal Asem Bagus, Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan. M. mengalami luka robek di bagian pinggang setelah terserempet kereta dan segera dilarikan ke fasilitas medis.
Menurut laporan Command Center 112, kecelakaan terjadi sekitar pukul 15.36 WIB saat ketiga korban melintasi perlintasan kereta api Tambak Mayor. Diduga mereka tidak menyadari keberadaan kereta api yang melaju cepat. Akibatnya, bentor yang dikemudikan J. tertabrak langsung, sementara kedua pengendara sepeda motor terserempet kereta.
Petugas BPBD Kota Surabaya yang tiba di lokasi menjelaskan situasi kejadian. "Ketika kami tiba, dua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sedangkan satu korban lainnya masih sadar meskipun mengalami luka serius. Kami segera memberikan pertolongan darurat," ujar salah satu petugas BPBD.
M. langsung dirujuk ke Puskesmas Asemrowo untuk mendapatkan perawatan awal sebelum dipindahkan ke RSUD dr. Soetomo. Sementara itu, jenazah kedua korban meninggal dunia dibawa ke kamar jenazah RSUD dr. Soetomo.
Seluruh barang bukti kendaraan telah diamankan oleh polisi untuk keperluan investigasi lebih lanjut.
"Kami akan melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan penyebab kecelakaan ini. Namun, kami menduga korban kurang waspada saat melintasi perlintasan tanpa pengamanan otomatis," ungkap salah satu anggota Polsek Asemrowo.
Kejadian tragis ini kembali menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dan kewaspadaan saat melintasi perlintasan kereta api, terutama yang tidak memiliki palang pintu otomatis.