Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 Desember 2024 | 17.10 WIB

Permainan Tradisional: Menyelamatkan Generasi dari Ketergantungan Gadget

Anak-anak di Surabaya yang bermain lompat karung, salah satu permainan tradisional di Indonesia. (Kampoeng Dolanan) - Image

Anak-anak di Surabaya yang bermain lompat karung, salah satu permainan tradisional di Indonesia. (Kampoeng Dolanan)

 
JawaPos.com - Di tengah gempuran teknologi modern, anak-anak Indonesia semakin tenggelam dalam dunia digital. Gadget menjadi sahabat sejati mereka, menggantikan tawa riang bermain di lapangan atau halaman rumah. Padahal, permainan tradisional Indonesia menyimpan nilai-nilai luhur yang berpotensi membentuk karakter generasi penerus bangsa.
 
Menurut Mustofa Sam, atau yang akrab disapa Cak Mus, pendiri Kampoeng Dolanan, kondisi ini mencerminkan perubahan budaya yang mengkhawatirkan. “Ketika anak-anak sibuk dengan gadget, mereka kehilangan kesempatan untuk menjadi makhluk sosial yang utuh. Mereka hanya menjadi ‘manusia perantara’—pendiam di dunia nyata, tetapi ramai di dunia maya,” jelasnya kepada JawaPos.com, Rabu (18/12). 
 
Kampoeng Dolanan, yang berdiri sejak 2016, hadir dengan misi menyelamatkan budaya permainan tradisional Indonesia dari kepunahan. Cak Mus menekankan bahwa nilai-nilai positif seperti kejujuran, kepedulian, dan sopan santun bisa diajarkan melalui permainan tradisional. “Setiap permainan tradisional mengajarkan unggah-ungguh, etika, dan interaksi sosial yang baik. Ini penting untuk membentuk karakter anak-anak,” tambahnya.
 
 
Cak Mus melihat fenomena dualisme sifat anak-anak sebagai tantangan serius. Anak-anak cenderung pendiam di dunia nyata, tetapi berubah menjadi pribadi berani dan ekspresif di dunia maya. “Ini kontradiktif. Permainan tradisional adalah cara untuk mengembalikan keseimbangan itu, agar anak-anak bisa menjadi manusia seutuhnya,” ujarnya.
 
Namun, tantangan besar lainnya adalah persepsi keliru masyarakat. Banyak yang menganggap permainan tradisional tidak lagi menarik bagi anak-anak. “Anggapan itu salah. Anak-anak sebenarnya tidak bermain permainan tradisional bukan karena tidak tertarik, tetapi karena mereka belum teredukasi. Begitu mereka mencoba, mereka sangat antusias,” tegas Cak Mus.
 
Cak Mus tidak memungkiri bahwa teknologi memiliki peran penting. Namun, dia menekankan pentingnya keseimbangan. Bahkan, banyak pakar teknologi melarang anak-anak mereka menggunakan gadget hingga usia tertentu. “Kita yang mengaku melek teknologi seharusnya belajar dari mereka. Biarkan anak-anak bermain di taman dan mengenal permainan tradisional, seperti yang dilakukan anak-anak para pakar teknologi di luar sana,” katanya.
 
 
Saat ini, Kampoeng Dolanan telah berhasil melibatkan 98% anak-anak di Surabaya untuk bermain permainan tradisional. Harapannya, gerakan ini bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk lebih peduli pada budaya bangsa.
 
“Jika permainan tradisional punah, itu bukan karena pengaruh budaya luar, tetapi karena bangsa kita sendiri yang tidak peduli. Saatnya kita introspeksi dan mulai bergerak,” tutup Cak Mus.
 
Melalui gerakan ini, Kampoeng Dolanan mengajak semua pihak—orang tua, pendidik, dan komunitas—untuk bersama-sama menjaga warisan budaya permainan tradisional. Mari jadikan permainan tradisional sebagai bagian dari kehidupan anak-anak kita, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang tangguh, berkarakter, dan bangga pada budayanya.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore