Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 Desember 2024 | 03.05 WIB

Perubahan Pola Cuaca di Surabaya: Dampak Iklim dan Tata Kota

Hujan deras yang mengguyur Surabaya sejak kemarin menyebabkan banjir parah di beberapa wilayah di Surabaya, salah satunya di Jalan Tambak Dalam Baru. (Juliana Christy / Jawa Pos) - Image

Hujan deras yang mengguyur Surabaya sejak kemarin menyebabkan banjir parah di beberapa wilayah di Surabaya, salah satunya di Jalan Tambak Dalam Baru. (Juliana Christy / Jawa Pos)

 
JawaPos.com – Kota Surabaya sedang mengalami perubahan signifikan dalam pola cuaca yang dipengaruhi oleh perubahan iklim global serta perubahan tata kota. Hal ini terlihat dari seringnya terjadi angin kencang dan angin puting beliung, serta suhu ekstrem selama musim kemarau.
 
Selama musim kemarau, suhu udara di Surabaya menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pada puncak musim kemarau, suhu maksimum dapat mencapai 34-35 derajat Celsius. Bahkan dalam beberapa pengukuran, suhu tertinggi tercatat hingga 37 derajat Celsius. Kondisi ini menjadi salah satu dampak nyata dari perubahan iklim yang menyebabkan gelombang panas lebih intens.
 
Menurut Rendy Irawadi, salah satu ahli dariaq BMKG Juanda, fenomena ini tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan iklim global, tetapi juga kondisi lokal akibat tata kota. “Efek urban heat island sangat terasa di Surabaya, terutama pada musim kemarau. Pengurangan area hijau memperparah kondisi ini, karena area beton dan aspal menyerap lebih banyak panas,” ungkap Rendy kepada JawaPos.com, Jumat (13/12).
 
 
Saat musim hujan tiba, suhu udara di Surabaya sedikit menurun dengan maksimum berkisar antara 33 hingga 34 derajat Celsius. Namun, kelembapan tinggi akibat kondisi berawan sering kali membuat suhu terasa lebih panas.
 
Fenomena cuaca ekstrem seperti angin kencang dan angin puting beliung juga semakin sering terjadi di Surabaya, terutama pada masa peralihan cuaca. Perubahan suhu yang tiba-tiba antara kondisi panas dan hujan memicu pembentukan angin kencang.
 
“Angin puting beliung sering terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara yang signifikan akibat pemanasan permukaan tanah. Fenomena ini cenderung meningkat di kawasan yang minim vegetasi, seperti wilayah urban,” jelas Rendy.
 
 
Perubahan tata kota di Surabaya juga berperan besar dalam memengaruhi pola cuaca. Pembangunan infrastruktur yang masif, pengurangan area hijau, dan peningkatan kawasan permukiman serta industri memperkuat dampak cuaca ekstrem. Area hijau yang sebelumnya berfungsi untuk menyerap panas kini semakin berkurang, sehingga kemampuan kota untuk menstabilkan suhu pun menurun.
 
Rendy menambahkan, “Perubahan tata ruang ini berdampak pada kondisi cuaca. Pemanasan yang lebih tinggi akibat pengurangan vegetasi meningkatkan risiko cuaca ekstrem, seperti hujan lebat mendadak atau angin kencang.” pungkasnya. 
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore