JawaPos.com – Peran guru sebagai pendidik di era modern kian menantang. Tidak hanya dituntut untuk profesional dalam mengajar dan mencetak generasi berprestasi, guru juga menghadapi berbagai beban kerja yang dapat memicu stres. Mengelola beban ini dengan baik menjadi kunci agar guru tetap sehat secara mental dan bahagia. Sebab, guru yang bahagia akan mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa.
Rahma Kusumandari, Psikolog Pendidikan dari Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya, menyampaikan pentingnya mengenali sumber stres yang sering dihadapi guru, mulai dari beban kurikulum, perilaku siswa yang beragam, hingga hubungan dengan rekan kerja.
“Guru juga manusia. Mereka bisa tertekan oleh berbagai masalah, baik di tempat kerja maupun masalah pribadi,” ujar Rahma dalam seminar bertajuk Mendidik dengan Hati untuk Generasi Berpekerti dan Berprestasi yang diadakan di MI Muhammadiyah 27 (Mimdatu) Surabaya, Sabtu (7/12).
Melalui permainan interaktif, Rahma mengajak para guru untuk mengidentifikasi perasaan sendiri. Mereka diminta memilih emoji bahagia, biasa saja, atau sedih yang ditempel di sudut ruangan, lalu mengungkapkan perasaannya. Dari situ, guru dapat mulai memahami emosi mereka dan belajar mengelola stres dengan lebih baik.
“Guru harus mengenali gejala stres, baik yang memengaruhi fisik, emosional, maupun perilaku. Jika sudah mengenali pemicunya, cobalah fokus pada hal-hal positif. Misalnya, jika menghadapi siswa berperilaku buruk, cari tahu penyebabnya. Bisa jadi, siswa menghadapi masalah di rumah atau tidak paham pelajaran,” papar Rahma.
Rahma menegaskan bahwa kebahagiaan guru adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Guru yang bahagia tidak hanya mampu mengelola dirinya sendiri, tetapi juga menjadi pengayom bagi siswanya. “The magic word is happy. Kebahagiaan adalah antibodi alami yang bisa kita ciptakan sendiri. Murah dan tidak perlu modal,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan nutrisi positif bagi pikiran dan mental, seperti mendengar dan melihat hal-hal yang baik, serta fokus pada apa yang bisa dikontrol. Dengan begitu, guru dapat mendidik dengan hati sehingga pesan yang disampaikan lebih mengena di hati siswa. Dampaknya, siswa tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki budi pekerti yang baik.
Selain seminar, peringatan Hari Guru di Mimdatu juga diramaikan dengan lomba membuat poster pendidikan. Guru-guru dibagi menjadi beberapa kelompok untuk berkreasi menciptakan karya terbaik mereka. Lomba ini tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga melatih kekompakan dan manajemen waktu.
Ketua Komite Mimdatu, Hergian Dinarina, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi tradisi tahunan sebagai bentuk penghargaan kepada para guru. “Kami berharap acara ini membawa semangat baru bagi para guru sehingga energi positif mereka dapat menular kepada siswa,” ungkapnya.
Seminar dan lomba ini menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa guru yang bahagia akan menghasilkan generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berbudi pekerti luhur. Karena mendidik dengan hati adalah kunci mencetak generasi yang hebat.