Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 November 2024 | 19.50 WIB

"Harta Karun" Hari Pahlawan Butuh Perhatian

IKON SEJARAH: Tugu Pahlawan yang sekarang menjadi ikon Kota Surabaya dulu merupakan medan pertempuran besar arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu pada 10 November 1945. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS) - Image

IKON SEJARAH: Tugu Pahlawan yang sekarang menjadi ikon Kota Surabaya dulu merupakan medan pertempuran besar arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu pada 10 November 1945. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)

Beberapa titik penting pertempuran 10 November masih dalam kondisi kurang terawat. Padahal, semua titik mengandung nilai historis tinggi. Apalagi, perang Surabaya adalah wajah nyata kebinekaan Indonesia.

SHOLEH H.Q., M. AZAMI R., SEPTIAN N.H., RETNO D.A., Surabaya

DI sisa-sisa fasad Benteng Kedung Cowek itu, terpendam banyak cerita tentang kegigihan Batalyon Sriwidjaja dan arek-arek Suroboyo dalam palagan 10 November 1945. Kustbatterij Kedoeng-Tjowek atau Baterai Pesisir Kedung Cowek yang dibangun pada 1900 itu punya peran penting menghambat laju pergerakan tentara Inggris di Surabaya.

Sampai sekarang, tempat tersebut sebenarnya masih menjadi jujukan masyarakat. Tapi, sebagian kawasan cenderung dipenuhi semak belukar.

’’Di Kedung Cowek ini kan juga terdapat beberapa pejuang yang gugur sehingga perlu ada penanda bukti perjuangan, bisa semacam monumen atau tugu kecil,” papar pendiri Roodebrug Soerabaia Ady Setyawan kepada Jawa Pos.

Memperingati Hari Pahlawan hari ini, kami menyusuri kembali sejumlah titik palagan 10 November di Surabaya, yang oleh sejarawan Australia M.C. Ricklefs disebut sebagai pertempuran paling hebat selama masa revolusi 1945–1949. Menemui sejumlah sejarawan untuk mengulas makna penting titik-titik yang bisa dibilang harta karun sejarah tersebut sekaligus menggambarkan bagaimana kondisinya sekarang.

Penjara Kalisosok

Tewasnya Jenderal Aubertin Mallaby di Jembatan Merah pada 30 Oktober 1945 menjadi pemicu utama pertempuran 10 November di Surabaya. Namun, informasi terkait bakal ada peperangan besar tersebut sudah menyebar terlebih dulu, termasuk ke seluruh tahanan Penjara Kalisosok.

Sayangnya, kondisi bekas penjara itu di sisi utara Surabaya terbengkalai dan memprihatinkan. Atap bangunan, lanjut dia, tinggal rangka tanpa ada penutup.

Sejauh ini belum ada tanda-tanda perawatan, padahal bangunan tersebut punya nilai historis tinggi. ’’Jangan sampai kondisinya nanti seperti Rumah Bung Tomo yang juga hancur karena kurang perawatan,” ungkapnya.

Pada sisi seberang Penjara Kalisosok, sekitar 200 meter dari House of Sampoerna, juga terdapat makam para pejuang. Titik-titik para pejuang tersebut, sebagaimana di Kedung Cowek, sambung Ady, perlu diberi penanda tertentu sebagai bukti perjuangan.

Benteng Kedung Cowek

DI TEPI LAUT: Benteng Kedung Cowek, Surabaya, dari sini perlawanan keras diberikan para pejuang menghadapi rentetan tembakan meriam dari laut. (ROBERTUS RISKY/JAWA POS)

Tentara di kapal-kapal Inggris yang menghujani Surabaya dengan meriam kaget karena mendapat perlawanan dari Benteng Kedung Cowek. Dari segi kualitas tembakan artileri, pasukan Inggris mengira pelakunya para tentara Jepang.

Mayoritas yang berjuang di Kedung Cowek memang mantan Heiho dan Giyugun didikan Jepang yang pernah bertempur di Morotai, Maluku Utara, melawan sekutu. Penggunaan kata Sriwidjaja sebagai bentuk penghormatan. Untuk mengenang asal para pejuang di batalyon tersebut yang berasal dari Sumatera.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore