
Ilustrasi stunting. (JawaPos)
JawaPos.com–Pemkot Surabaya buktikan keseriusan untuk mencegah stunting. Pemkot akan memperkuat upaya pendampingan bagi keluarga berisiko stunting yang difokuskan pada calon pengantin (Catin), calon Pasangan Usia Subur (PUS) hingga surveilans keluarga berisiko stunting.
Pemkot Surabaya melakukan pendampingan tersebut dengan mengerahkan Tim Pendamping Keluarga (TPK) Surabaya yang melakukan pencatatan dan pelaporan menggunakan Aplikasi Sayang Warga (ASW). Langkah pendampingan bagi calon pengantin hingga balita tersebut bertujuan untuk pencegahan stunting sejak dini.
”Pendampingan dilakukan untuk memastikan kesehatan reproduksi dan keluarga, serta mencegah lahirnya bayi rawan stunting dan memastikan tumbuh kembang anak sesuai dengan usia,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya Ida Widayati seperti dikutip dari laman resmi Pemkot Surabaya.
Berdasar laporan pendampingan yang dihimpun melalui ASW pada September 2024, TPK merinci data pendampingan yang mencakup berbagai sasaran. Di antaranya Catin 3.255 orang, Pasangan Usia Subur (PUS) 317.614 orang, Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (Bumil KEK) 901 orang, Ibu Hamil Tidak KEK 13.192 orang, Ibu Nifas (BuFas) 1.719 orang dan Balita 144.897 anak.
Sedangkan data pendampingan balita pra stunting per 30 September, mencakup 303 balita pra stunting yang didampingi. Sementara data pendampingan terhadap balita stunting mencapai 203 anak.
Ida menjelaskan pendampingan ini dilakukan secara menyeluruh sejak perencanaan pernikahan hingga usia remaja. Sasaran pendampingan mencakup seluruh tahap dalam siklus hidup keluarga. Dari masa perencanaan pernikahan hingga usia balita.
”Sampai anak usia sekolah menengah pertama agar sehat fisik dan mentalnya menuju generasi emas 2045,” imbuh Ida.
Dari hasil evaluasi pendampingan, TPK berhasil mendampingi seluruh calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas, serta balita yang teridentifikasi berisiko stunting. Selain itu, pendampingan juga mencakup PUS yang berjumlah lebih dari 300 ribu orang.
Ida juga memastikan pendampingan yang dilakukan mulai harian hingga bulanan akan dievaluasi berbagai pihak agar langkah strategis ini berjalan efektif.
”Pendampingan harian, mingguan, dan bulanan dievaluasi berbagai pihak. Termasuk Koordinator TPK, Kasi Kesra Kecamatan dan Kelurahan, TP PKK, Puskesmas, DP3APPKB dan Dinas Kesehatan,” jelas Ida.
Ida juga memastikan setiap temuan dan hasil pendampingan akan dilaporkan secara berkala kepada DP3APPKB dan Ketua TPPS (Tim Percepatan Penurunan Stunting) Surabaya. Dengan begitu, tidak akan ada sasaran pendampingan yang terlewat di seluruh wilayah setempat.
”Kami juga terus memantau dan menangani pengaduan yang disampaikan oleh Tim Pendamping Keluarga melalui fitur pengaduan yang tersedia di aplikasi ASW,” ucap Ida.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
