Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Juni 2024 | 12.46 WIB

Eri Cahyadi Sebut ART di Surabaya Lebih Rasional daripada MRT

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. - Image

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

JawaPos.com–Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan pembangunan Autonomus Rapid Transit (ART) lebih rasional dibangun di wilayah tersebut daripada Mass Rapid Transit (MRT) atau Light Rail Transit (LRT). Sebab, sesuai dengan ketersediaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

”Kalau ART itu pakai magnet, ternyata itu harganya Rp 500-600 miliar per 7 kilometer. Kami (pemerintah kota) langsung mengacungkan tangan saat acara Apeksi,” kata Eri seperti dilansir dari Antara.

Eri menyatakan, jika harus membangun MRT atau LRT, APBD Kota Surabaya tidak akan cukup. Sebab, pembangunan MRT membutuhkan anggaran sekitar Rp 2,3 triliun per 1 kilometer.

Anggaran tersebut jika dihitung menggunakan APBD Kota Surabaya, pembangunan jalur transportasi hanya sanggup terselesaikan 5 kilometer.

”Habis anggarannya, terus untuk pengentasan kemiskinan bagaimana? Banyak orang bertanya kok tidak membangun, karena tidak mungkin,” ujar Eri.

Untuk LRT, lanjut dia, setelah dihitung pembangunan membutuhkan anggaran sekitar Rp 800 miliar per kilometer. Angka tersebut juga masih membebani APBD Kota Surabaya.

Jika harus dibandingkan dengan Jakarta, kata Eri, hal itu tidak relevan, sebab sekalipun Surabaya merupakan kota metropolitan, besaran anggaran berbeda.

”Jakarta APBD besar, Surabaya APBD-nya cuma Rp 10,9 triliun,” terang Eri.

Lantaran alokasi anggaran pembangunan lebih relevan, Pemkot Surabaya mencoba merealisasikan pembangunan ART yang berpenggerak magnet itu.

”Belum ada yang punya, ini diterapkan di IKN, insya Allah Surabaya kedua,” tutur Eri.

Eri pun menyatakan sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan guna membahas proses penyusunan konsep ART.

”Kami lakukan FS (studi kelayakan) di Surabaya, semoga 2025 atau 2026 sudah jalan,” kata Eri.

Pelaksanaan studi kelayakan turut menghitung kebutuhan koneksivitas antara ART dan transportasi lain, seperti Suroboyo Bus, TransSemanggi, maupun feeder.

”Kami lihat posisi busnya di mana, posisi ART di mana, misalnya di satu lokasi tidak bisa dilalui bus maka ART saja,” ujar Eri.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menawarkan angkutan perkotaan ART sebagai alternatif terbaru penyediaan layanan transportasi massal untuk mengurai kemacetan lalu lintas perkotaan. Tawaran itu disampaikan Presiden Jokowi di depan para wali kota se-Indonesia yang hadir pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) 2024 di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (4/6).

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore