
Produsen lontong di kawasan Wonokusumo, Surabaya, tetap memproduksi lontong meski harga beras meroket.
JawaPos.com - Kenaikan harga beras di pasaran ternyata berdampak pada produksi makanan khas dari beras yakni lontong di Surabaya. Seperti diketahui, beras merupakan bahan baku utama pembuatan lontong.
Agar tidak merugi, pembuat atau produsen lontong menyiasatinya dengan memperkecil ukuran dan mencampur beras premium dengan medium. Hal ini supaya tetap memenuhi permintaan pasar. Di tengah meroketnya harga beras, harga lontong tetap dijual Rp 2 ribu per buah.
Dampak tersebut dirasakan oleh pengusaha lontong di Jalan Wonokusumo, Surabaya. Dalam sehari, produsen lontong membutuhkan rata-rata 50 hingga 60 kilogram beras. Namun, dengan kenaikan harga beras, sejumlah pembuat lontong harus mencampur beras premium dan medium agar kualitas tetap bisa dirasakan.
Tak hanya itu, produsen juga mengurangi panjang lontong yang semula 30 centimeter kini menjadi 20 centimeter. "Biasanya 50 sampai 60 kilogram beras untuk membuat lontong per hari. Karena harga beras naik jadi beras untuk lontong saya siasati dengan beras yang mahal dan murah atau kualitas berasnya saya campur," kata salah satu produsen lontong, Fidi Rimas, Minggu (18/2), dilansir Radar Surabaya (Jawa Pos Group).
Dalam dua pekan terakhir harga beras naik mencapai Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu per kilogram. Maka penambahan biaya produksi menjadi besar. Fidi mengaku saat ini biaya produksi mencapai Rp 100 ribu.
"Ya harapannya harga beras bisa stabil. Bila perlu ada distribusi beras dari Bulog untuk membantu mengurangi tingginya harga beras," harap Fidi.
Sementara itu, produsen lontong lainnya juga mengurangi ukuran panjang lontong hingga tujuh centimeter. Seperti Mustania yang tetap produksi di tengah mahalnya harga beras.
Ia khawatir jika harga beras terus meroket, daya beli masyarakat terhadap lontong berkurang. "Ya selama beras naik, ukurannya (lontong, Red) saya perkecil. Yang semula 30 centimeter kini bisa 22 sampai 23 centimeter. Lebih kecil. Ya semoga aja harga kembali stabil agar kami bisa produksi lebih banyak," ujar Mustania.
Lontong merupakan makanan yang biasa dinikmati bersama dengan sate, gado-gado, bakso, soto, hingga lontong balap. Olahan beras di dalam selongsong daun pisang yang ditanak selama berjam-jam. Kawasan Wonokusumo merupakan salah satu kampung pembuat lontong di Kota Pahlawan. Tentu kenaikan harga beras sangat memberatkan bagi para produsen lontong.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
