Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Oktober 2022 | 14.48 WIB

Mengunjungi Anak-Anak Panti Asuhan Bilyatimi Surabaya

BERI SEMANGAT: Anggota Komisi A DPRD Surabaya Imam Syafi - Image

BERI SEMANGAT: Anggota Komisi A DPRD Surabaya Imam Syafi

Meski sudah resmi ditutup pada 2014, bekas kawasan lokalisasi Dolly masih menyisakan kisah pilu. Ada anak-anak tak berdosa yang ditelantarkan orang tua mereka. Sebagian anak malang itu tinggal di Panti Asuhan Bilyatimi.

UMAR WIRAHADI, Surabaya

PAGI buta, pada Minggu, 24 Oktober 2021, puluhan anak Panti Asuhan Bilyatimi baru selesai menunaikan salat Subuh berjemaah. Setelah berzikir, mereka naik ke lantai 2 untuk mengikuti kegiatan ngaji pagi. Namun, ada suara di luar pagar panti asuhan yang mengejutkan para pengasuh.

Seorang perempuan muda berdiri tepat di depan pintu. Raut wajahnya tampak lusuh. Kedua tangannya seperti menggendong sesuatu. Ternyata yang digendong adalah bayi berselimut handuk. ”Saya pastikan baru lahir karena masih ada bekas darah di tubuhnya,” kata Nur Fadhilah, pengasuh Panti Asuhan Bilyatimi di Jalan Dukuh Kupang, Kecamatan Sawahan.

Oleh sang ibu, bayi itu ditaruh begitu saja di atas meja. Setelah itu, dia nyelonong pergi. ”Wajahnya mau kami foto. Orangnya tiba-tiba sudah pergi,” ujar Fadhilah.

Setelah diselidiki, ibu muda itu adalah wanita tunasusila (WTS) eks lokalisasi Dolly yang indekos di kawasan tersebut.

Kini bayi itu sudah berusia 11 bulan dan diasuh pengasuh panti asuhan. Kadang pihak panti menyewa pengasuh khusus agar bayi itu bisa tumbuh sehat. ”Kami ingin, saat besar nanti, dia bisa jadi anak yang arif dan bijaksana,” tutur ibu tiga anak tersebut.

Panti Asuhan Bilyatimi menampung puluhan anak kurang beruntung. Ada 38 anak yatim, piatu, dan yatim piatu. Mereka diserahkan orang tua atau kerabat karena tidak mampu membesarkan. Baik karena alasan ekonomi maupun sosial.

MF adalah salah satu yang tinggal di panti asuhan. Bocah 4 tahun tersebut adalah anak kandung dari salah seorang pekerja seks di bekas lokalisasi Dolly. Bocah itu awalnya diserahkan ibunya kepada salah seorang keluarga pemilik kos-kosan di Dolly. Kemudian, MF diserahkan ke Panti Asuhan Bilyatimi setelah pengasuhnya meninggal.

Bocah malang itu pun tidak mengetahui keberadaan orang tuanya. ”Ibu saja tidak tahu. Apalagi ayahnya,” ungkap Fadhilah.

Nasib sama dialami DPS. Gadis remaja 15 tahun itu tinggal di panti asuhan sejak 2018. Meski orang tuanya lengkap, dia berasal dari keluarga broken home. Ayahnya sudah dua kali keluar masuk penjara karena terlibat kasus kriminal. ”Baru tiga minggu ini keluar (penjara, Red). Tapi, gak pernah jenguk saya,” ungkap DPS. Sementara, ibunya tinggal di sebuah kos-kosan bersama dua adiknya.

Salah satu persoalan krusial terkait dengan identitas anak-anak di panti asuhan. Sampai sekarang, ada enam anak yang belum memiliki kartu keluarga (KK). Kondisi itu bisa berdampak pada masa depan anak untuk melanjutkan pendidikan. Panti Asuhan Bilyatimi sudah berupaya keras mengurus KK untuk memperjelas identitas anak-anak.

Anggota Komisi A DPRD Imam Syafi’i ikut membantu pengurusan kartu identitas anak (KIA) mereka. Kemarin sore Kadispendukcapil Agus Imam Sonhaji datang langsung ke panti asuhan tersebut. Agus menyerahkan akta lahir dan KIA. ”Syukur, kartu identitas langsung jadi. Sudah diserahkan ke pengurus panti asuhan,” jelas Imam.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore