Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 September 2022 | 03.48 WIB

Pengin Cepat Naik P-5, Tidak Terburu-buru Bisa Pilih Suroboyo Bus

DITUNGGU-TUNGGU: Suroboyo Bus menjadi incara warga untuk ditumpangi karena lebih nyaman dan melintasi tengah kota. (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

DITUNGGU-TUNGGU: Suroboyo Bus menjadi incara warga untuk ditumpangi karena lebih nyaman dan melintasi tengah kota. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com - Suroboyo Bus mulai jadi incaran warga Surabaya ketika harus memilih transportasi umum sebagai sarana mobilitas. Apalagi mereka yang menginginkan kenyamanan. Meskipun, jika dibandingkan dengan bus kota atau ojek online (ojol), waktu tempuhnya lebih lama.

Untuk mengetahui durasi perbandingan Suroboyo Bus dan bus kota, Jawa Pos menaiki Suroboyo Bus rute Rajawali dan bus P-5 rute Purabaya–Jembatan Merah (JMP) via tol. Hasilnya, waktu tempuh dari Purabaya–JMP lebih cepat dengan bus kota P-5.

Dengan kondisi interior yang sudah mengalami banyak kerusakan, waktu tempuh bus P-5 dari Purabaya ke JMP hanya 35 menit. Sementara itu, Suroboyo Bus butuh waktu 48 menit. Rute dua bus tersebut memang berbeda. Begitu juga keunggulannya. ”Saya ngejar cepatnya,’’ kata Ahmadi, salah seorang penumpang bus P-5.

Pria 48 tahun asal Malang itu selalu menggunakan bus P-5 dari Bungurasih ke JMP atau sebaliknya. Alasannya agar tidak telat bekerja. Meski biaya yang dikeluarkan sedikit lebih mahal, yakni Rp 10 ribu. ”Suroboyo Bus murah dan enak, tapi suwe,’’ terangnya.

Kondektur P-5 Setyo Rahmat mengungkapkan, keberadaan Suroboyo Bus mulai dirasakannya. Penumpang yang naik bus P-5 kini menurun. Sebagian beralih ke Suroboyo Bus.

Jawa Pos juga membandingkan durasi kedua bus dari JMP–Purabaya. Hasilnya, waktu yang ditempuh hampir sama, yakni di kisaran 50 menit. Meskipun bus P-5 ngetem di Pasar Loak cukup lama. Sekitar 20 menit karena tidak ada penumpang.

Waktu menunggu Suroboyo Bus dan P-5 juga tidak lama, sekitar 10 menit. Sigit Indrayana, salah seorang penumpang Suroboyo Bus, mengungkapkan bahwa naik Suroboyo Bus murah dan jauh lebih nyaman. Asalkan tidak terburu-buru. Apalagi pemberhentian di setiap halte tidak lama. Beda dengan bus kota yang bisa lama menunggu penumpang.

Slamet, sopir bus P-5, mengatakan bahwa keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Saat pagi, armadanya masih menjadi pilihan para pekerja. Beda saat siang atau hari libur. Banyak warga yang naik Suroboyo Bus sekalian untuk jalan-jalan.

Namun, untuk beberapa tujuan yang berada di pusat kota, Suroboyo Bus menjadi transportasi utama selain ojek online. Misalnya, dari Purabaya menuju Polda Jatim atau Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Dishub Rekrut 144 Tenaga Operasional Feeder


ANGKUTAN feeder mulai dioperasikan Desember nanti. Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya segera mendatangkan 36 unit kendaraan feeder jenis Toyota Hiace. Satu paket dengan pengadaan angkutan itu, dishub juga menyiapkan 144 tenaga operasional. Mereka bertugas sebagai sopir dan kernet.

Kadishub Kota Surabaya Tundjung Iswandaru menyampaikan, tenaga operasional sedang disiapkan.

Direkrut dari pelaku transportasi di wilayah setempat. Berasal dari pengemudi angkot dan bus. ”Jadi, kami utamakan dari sopir angkot dan bus yang beroperasi di situ,’’ kata Tundjung.

Mekanismenya, satu feeder membutuhkan empat tenaga. Masing-masing bertindak sebagai sopir dan kernet. Jam kerja dibagi dalam dua sif mengikuti operasional Suroboyo Bus. Mulai pukul 06.00 hingga pukul 22.00. Dengan demikian, total kebutuhan sopir dan kernet feeder sebanyak 144 orang. ”Masing-masing kebagian delapan jam kerja pagi dan sore,’’ jelas Tundjung.

Rencana sementara, 36 unit feeder akan melayani tiga rute. Penentuan rute berdasar permintaan penumpang yang sudah ada. Penumpang atau pelaku perjalanan yang traffic-nya tinggi menjadi prioritas untuk dilayani angkutan feeder. Penumpang akan dijemput di area permukiman dan perumahan untuk diantar ke halte terdekat Suroboyo Bus. ”Rute ini masih di-mapping,’’ tuturnya.

Saat ini dishub masih fokus untuk memproses pengadaan feeder. Anggarannya sekitar Rp 27 miliar. Pemesanan dilakukan lewat e-catalogue. Sejauh ini kendala utama pengadaan armada adalah syarat komponen tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 40 persen. Tundjung pun mengakui bahwa pemesanan 36 Toyota Hiace sebagai feeder berjalan lambat. Padahal, anggaran pengadaan sudah disiapkan dalam APBD murni 2022. ”Agak molor. Karena spesifikasi barang juga belum muncul di e-catalogue. Semoga Desember ini jalan,’’ jelasnya.

Wakil rakyat mendorong operasional feeder benar-benar terealisasi Desember tahun ini. Sebab, tanpa angkutan pengumpan yang terintegrasi, warga akan sulit menjangkau transportasi publik.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore