Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 September 2022 | 16.39 WIB

Pamitan Tes Kenaikan Sabuk Silat, Pulang Jasadnya yang Datang

Photo - Image

Photo

JawaPos.comp- Kepada orang tuanya, Alif Risky (AR) pamit untuk mengikuti tes kenaikan sabuk di sebuah perguruan silat yang diikutinya. Namun, hanya berselang beberapa jam, bukan kabar ia telah naik tingkat. Malah, kabar memilukan yang datang.

Beberapa pelatih mendatangi rumah AR dan mengatakan bahwa AR pingsan saat latihan. Ternyata, remaja 17 tahun asal Pucang, Sidoarjo, itu koma akibat pendarahan hebat. Setelah sempat dirawat di RSUD Sidoarjo, nyawanya tak tertolong.

Dedik Hainul Akbar, orang tua AR, mengungkapkan bahwa dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya dialami anak sulungnya itu. Yang dia tahu, Minggu (11/9) pagi anaknya pamit untuk mengikuti semacam tes kenaikan sabuk di perguruan silatnya di sekitar Lingkar Timur. ’’Siang harinya sekitar jam 12 itu dua pelatihnya datang, bilang kalau anak saya pingsan, terus posisi saat itu di UGD,’’ ujar Dedik.

Pria 43 tahun itu bersama istri dan adik AR kemudian mendatangi UGD RSUD Sidoarjo. Keluarga korban yang datang langsung terkejut tatkala melihat kondisi AR kritis di ICU. ’’Slang di mana-mana, infus, sama buat napas. Dari hidung anak saya keluar darah,’’ katanya. Dia pun merasa janggal. Klaim pelatih bahwa anaknya pingsan karena lelah berlari dirasa tidak cocok dengan kondisi anaknya tersebut.

Dia kembali bertanya kepada pelatih AR. ”Katanya kecapekan lari, pingsan, dikasih obat nggak sadar. Dibawa ke klinik daerah Magersari. Karena belum sadar, dibawa ke sini akhirnya,’’ ungkap bapak dua anak itu.

Photo

Keluarga berziarah ke makam almarhum Alif Risky

Lagi-lagi, alasan tersebut dirasa tidak masuk akal. Nah ketika ada beberapa teman AR yang datang menjenguk, Dedik berusaha mencari informasi lagi. ”Dari salah satu temannya itu saya baru tahu bahwa anak saya sempat mendapatkan kontak fisik dengan beberapa seniornya,’’ tuturnya.

Tidak lama setelah teman-teman seperguruannya datang, AR menghembuskan napas terakhirnya pukul 18.00. Setelah mendapat informasi adanya kontak fisik atau perkelahian saat tes tersebut, Dedik berusaha menanyakan kepada pelatih. ”Baru saat saya tekan, saat itu pelatih kemudian bilang kalau benar ada kontak fisik saat tes itu,’’ ujarnya.

Tidak lama kemudian setelah anaknya meninggal, Dedik bersama anak bungsunya menuju Polresta Sidoarjo untuk melaporkan kejadian yang menimpa anaknya. ”Temannya yang ngasih info itu, bilang kalau anak saya ditendang di perut dan dipukul di bagian samping dan punggung,’’ katanya.

Saat ditanyai siapa nama senior yang memukul, teman AR tidak bisa menjawab. ”Katanya saat itu ada kumpul antar ranting begitu. Jadi, ada senior yang tidak diketahui, hanya tahu sabuknya,’’ tuturnya. Setelah melapor, kemudian jenazah AR dibawa oleh pihak RSUD Sidoarjo ke RS Pusdik Bhayangkara Porong untuk dilakukan otopsi.

Kemarin subuh sekitar pukul 04.00 jenazah dipulangkan ke rumah duka. Kemudian pada pukul 08.00, jenazah siswa SMKN 1 Jabon itu disemayamkan di TPU Kelurahan Pucang, Sidoarjo. ’’Kami masih menunggu, kemungkinan polisi baru datang lagi besok (hari ini),” harap Dedik.

Saat dikonfirmasi mengenai laporan tersebut, Kasubsi Humas Polresta Sidoarjo Iptu Tri Novi Handono belum bisa memastikan. Hingga kemarin sore dia belum memberikan keterangan apa pun.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore