
Photo
JawaPos.com- Beroperasinya bus Trans Jatim memang mendapat sambutan luar biasa. Pengguna transportasi publik itu sangat antusias. Sejauh ini, warga rela antre untuk bisa naik armada baru milik Pemprov Jatim rute Gresik, Surabaya, Sidoarjo, tersebut.
Namun, kehadiran bus Trans Jatim itu cukup berdampak pada nasib para sopir angkutan kota (angkot). Banyak angkot kini terparkir di Terminal Bunder. Baik angkot merah jurusan dalam Kota Gresik maupun angkot hijau jurusan Gresik-Surabaya. Angkot-angkot itu pun kini ngetem lebih lama di pinggir jalan.
Pemandangan di Jalan Gresik-Lamongan, tepatnya di depan SPBU Dahanrejo, Kebomas, misalnya. Tampak ada dua angkot hijau dan satu angkot merah sedang ngetem. Namun, angkot merah hanya beberapa menit ngetem, kemudian berangkat ketika sudah dapat penumpang.
Tidak demikian dengan angkot hijau. Yahya, sopir angkot hijau, mengaku, sudah satu jam lebih ngetem. Namun, belum ada satupun mendapatkan penumpang. Padahal, biasanya cukup 15 menit, penumpang sudah cukup banyak. “Bagaimana lagi, trayek kami direbut. Ini lebih parah dibandingkan saat pandemi,” ucap Yahya.
Bapak 52 tahun itu menyebut, biasanya bisa mengambil penumpang mulai masuk hingga keluar Kota Gresik. Misalnya, di titik perbatasan Surabaya, Jalan Veteran, Jalan Kartini, depan RS Semen Gresik, depan UMG, hingga di depan RSUD Ibnu Sina. Namun, kini hanya mengandalkan penumpang yang turun dari bus Bojonegoro, Tuban, atau Semarang. “Sekarang yang di arah Gresik-Surabaya masyarakat lebih memilih bus Trans Jatim,” katanya.
Kini, memang penumpang itu memilih bus Trans Jatim. Termasuk, penumpang operan dari bus dari barat. “Di jalan raya utara sebelah terminal itu kan biasa bus menurunkan penumpang, nah penumpang tinggal nyeberang, lalu naik Trans Jatim,” keluhnya.
Sebelum ada Trans Jatim, angkot-angkot itu masih sering penuh. Terutama pada jam padat. Banyak warga yang menggunakan transportasi lama itu. “Kalau yang dari kota banyak yang naik dari UMG turun di SPBU ini, terus oper bus ke Bungurasih. Sekarang langsung ke Bungurasih. Tidak ada yang naik angkot,” katanya.
Secara tarif, antara bus Trans Jatim dan angkot ada selisih Rp 2.000. Trans Jatim jauh-dekat Rp 5 ribu, sedangkan angkot Gresik-Surabaya Rp 7 ribu. “Biasanya penumpang penuh terus, bisa sampai 15 penumpang. Sekarang mencari 5 penumpang saja sulit,’’ ujar Yahya.
Dia merasakan kini dampaknya lebih parah dibandingkan saat pandemi lalu. Ketika itu, para sopir angkot masih bisa bertahan. “Kalau terus begini, tidak tahu lagi. Kami harap Trans Jatim itu tidak memakai trayek kami agar bisa sama-sama hidup,” harap Yahya.
Suparman, sopir angkot lain memilih libur. Berlama-lama menunggu, tetapi tidak mendapatkan penumpang. Kini, angkotnya pun terparkir di pangkalan Terminal Bunder. Pria yang mengaku sudah 15 tahun menjadi sopir angkot itu kemarin hanya ngopi di warung saja. “Hari ini saya libur, tidak tahu sampai kapan. Semoga pemerintah ada solusi,” tutup Suparman.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
