
Photo
JawaPos.com- Hampir 90 persen nelayan jaring di kawasan Nambangan dan Cumpat, Kelurahan Kedung Cowek, Surabaya tak melaut Kamis (16/6) kemarin. Hal itu disebabkan angin kencang yang mengakibatkan gelombang tinggi sejak pukul 04.00 hingga 11.00 WIB.
Ketua DPD Komite Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Surabaya Ahmad Sukron mengatakan, perubahan cuaca ekstrem dimulai sejak pukul 04.00 WIB. Sempat reda pukul 06.00 WIB, lalu kembali ekstrem pukul 10.00 WIB.
”Kami semua stand by di tanggul. Ya, jaga perahu agar tak tenggelam. Infonya, satu perahu milik warga Cumpat terbalik,’’ katanya (16/6).
Ahmad menambahkan, mayoritas nelayan jaring di Nambangan Perak dan Cumpat tak melaut lantaran gelombang tinggi. ”Saya sempat nguras perahu dua kali. Teman-teman ada yang lebih dari itu saking tinggi gelombangnya,’’ paparnya.
Ahmad memperkirakan, ketinggian gelombang karena angin kencang mencapai 2,5 meter. ”Itu karena anginnya tak sekencang sekarang (kemarin). Jadi, empasannya sampai ke daratan. Air laut juga masuk ke gang permukiman warga,’’ terangnya.
Dia mengungkapkan, salah satu alternatif untuk mengantisipasi kejadian serupa di kemudian hari adalah dengan membuat tanggul pemecah ombak. Tak harus beton, lanjut dia, pemecah ombak juga dapat dibuat dengan menggunakan batu karang sebagai alternatif.
Idealnya, pemecah ombak dibuat sepanjang 2 kilometer dengan lebar atau jarak dari bibir pantai 500 meter. ”Bukan waktunya untuk salahkan alam. Ya, ini karena abrasi dan krisis iklim. Waktunya berubah untuk keseimbangan ekologi pesisir,’’ tegasnya.
Berdasar pantauan Jawa Pos, saking tingginya gelombang pantai, tak sedikit cangkang kerang yang turut terempas ke daratan. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, meski memasuki masa pasang air laut maksimum, gelombang tak begitu tinggi.
”Kalau cangkang kerang ikut naik, ya itu besar gelombangnya. Patokan kami di situ dan warga juga siaga,’’ ungkap salah seorang nelayan Cumpat Samidi. Dia mengungkapkan, satu perahu nelayan yang terbalik itu milik Mukhamad Ikhsan, warga Cumpat Gang 9.
Sementara itu, Lurah Kedung Cowek Ayu Vitasari mengatakan, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Satpol PP Kota Surabaya meninjau dan membantu evakuasi perahu yang terbalik. ”Kami selalu sampaikan untuk tetap waspada di tengah pasang air laut maksimum ini. Apalagi dibarengi fenomena La Nina,’’ ujarnya saat ditemui di Cumpat Gang 9.
Soal usulan warga untuk membuat pemecah ombak, Ayu mengatakan bahwa usulan itu sudah ada sejak lama. ”Kami sempat dengar usulan itu. Tapi, tetap kami koordinasikan dengan pimpinan,’’ katanya.
Dia mengaku ada wacana pemecah ombak dengan menggunakan sistem hutan bakau. ”Nanti ada jalan perahunya juga. Semoga juga jadi penguat kelestarian pesisir pantai,’’ jelasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
