Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 Mei 2022 | 04.48 WIB

Sebut Ada Kesalahan Sistem, Tracing 0, Surabaya Masuk PPKM Level 2

Warga melintas didepan mural bertema Covid-19 di Jakarta, Selasa (23/11/2021). Presiden Joko Widodo mengingatkan jajarannya untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 saat libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru). Untuk membatasi mobilitas masyarak - Image

Warga melintas didepan mural bertema Covid-19 di Jakarta, Selasa (23/11/2021). Presiden Joko Widodo mengingatkan jajarannya untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 saat libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru). Untuk membatasi mobilitas masyarak

JawaPos.com–Situasi Covid-19 di Kota Surabaya ditetapkan PPKM level 2 berdasar Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 24 Tahun 2022, berlaku hingga 23 Mei. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tracing di Kota Surabaya 0 dan ada 32 pasien Covid-19. Namun secara data dan faktual, PPKM di Kota Surabaya sebenarnya berada pada level 1.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Nanik Sukristina menjelaskan, ada kesalahan dalam sistem pada aplikasi asesmen situasi Covid-19 vaksin.kemenkes.go.id yang menjadi indikator penetapan PPKM pada Inmendagri. Kesalahan sistem itu terjadi pada 29 April–7 Mei atau saat libur dan cuti Lebaran.

”Kita setiap hari lakukan pemantauan situasi Covid-19 pada aplikasi kementerian kesehatan (kemenkes). Terakhir pada 28 April masih bisa melihat Surabaya level 1. Nah, 29 April, posisi aplikasi kosong sampai 7 Mei,” kata Nanik Sukristina saat konferensi pers di Kantor Eks Humas Pemkot Surabaya, Kamis (12/5).

Nanik menyebut, sepanjang libur dan cuti Lebaran sampai 7 Mei, aplikasi indikator PPKM kemenkes tidak dapat diakses. Karena itu, indikator situasi Covid-19 Surabaya masih menggunakan data 28 April. Aplikasi kemenkes baru dapat diakses kembali pada 8 Mei dengan posisi Kota Surabaya level 2.

”Saat itu asesmen situasi Covid-19 Surabaya level 2, karena ada satu indikator yang kurang memadai di antara 8 indikator PPKM, yaitu ratio tracing 1:0. Yang paling mengagetkan posisi tracing kita saat itu nol. Padahal, kondisi Surabaya di aplikasi Silacak menunjukkan ratio tracing melebihi target 1:15,” ungkap Nanik.

Dinkes Surabaya segera melakukan konfirmasi ke Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) Kemenkes terkait ratio tracing pada aplikasi indikator PPKM kemenkes. Pasalnya, aplikasi Silacak milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang terkoneksi dengan kemenkes sudah melebihi target.

”PHEOC merespons akan melakukan pengecekan dan verifikasi,” papar Nanik.

Pada 10 Mei, sekitar pukul 12.00 WIB, indikator level Kota Surabaya sudah berubah jadi level 1 dengan ratio tracing 1:31. Akan tetapi, Surat Edaran (SE) Inmendagri terkait level PPKM wilayah yang dikeluarkan pada 10 Mei, Kota Surabaya berada pada level 2. Padahal, sesuai dengan indikator level pada aplikasi kemenkes, pada 10 Mei Kota Surabaya berada pada level 1.

”Kemungkinan SE Inmendagri mengacu pada kondisi indikator PPKM Kota Surabaya per tanggal 7 Mei. Pada tanggal itu kondisi aplikasi belum dapat melakukan penarikan data secara stabil dan optimal dalam sistem, terutama pada indikator tracing,” terang Nanik.

Karena itu, apabila dilihat pada aplikasi kemenkes pada 12 Mei, Kota Surabaya berada pada level 1 sesuai dengan asesmen situasi Covid-19. Meski saat ini terdapat peningkatan kasus konfirmasi dan rawat inap rumah sakit, situasi Covid-19 di Kota Surabaya masih terkendali.

”Sebenarnya posisi Surabaya PPKM level 1, tapi dalam Inmendagri level 2. Sampai saat ini, Surabaya masih terkendali. Kita akan terus lakukan pemantauan seminggu ke depan pasca cuti bersama,” jelas Nanik.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya Ridwan Mubarun menyatakan, PPKM Kota Surabaya level 2 berdasar Inmendagri yang ditetapkan pada 9 Mei. Penetapan Inmendagri tersebut, menggunakan indikator penilaian berdasar kasus pada 8 Mei.

”Hasil asesmen 8 Mei, Kota Surabaya level 2. Itu ternyata karena indikator tracing kita di aplikasi kemenkes nol karena ada kesalahan sistem. Itu yang mempengaruhi PPKM Surabaya level 2,” terang Ridwan.

Padahal, kata Ridwan, per 8 Mei, pada aplikasi Silacak, ratio tracing di Kota Pahlawan mencapai 1:31. Artinya, jumlah tracing sudah melebihi target 1:15 yang ditetapkan kemenkes.

”Ini merugikan warga Surabaya. Kalau bicara Inmendagri PPKM Surabaya level 2. Tapi faktualnya PPKM Surabaya itu level 1,” ucap Ridwan Mubarun.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore