Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Februari 2022 | 03.48 WIB

Disukai Makhluk Gaib karena Pengap, Lembap, dan Remang-Remang

MASIH DIGUNAKAN: Salah satu kamar yang dimanfaatkan untuk tempat menyimpan barongsai. (Frizal/Jawa Pos) - Image

MASIH DIGUNAKAN: Salah satu kamar yang dimanfaatkan untuk tempat menyimpan barongsai. (Frizal/Jawa Pos)

Gedung bekas istal atau kandang kuda di Tambak Bayan Tengah, Surabaya, tak hanya menyimpan sejarah masyarakat Tionghoa di Surabaya. Tapi juga cerita mistis. Begitu kuatnya makhluk yang berdiam di situ membuat praktisi spiritual tidak berani macam-macam.

---

Kamis (3/2) malam tim Jawa Pos bersama praktisi spiritual Bambang Hadi Purnomo mengunjungi bangunan di wilayah utara Surabaya tersebut. Dindingnya terlihat usang karena sudah sangat tua, tapi masih berdiri kukuh. Sebagian atapnya sudah jebol. Beberapa benda terlihat berserakan. Ruangan terasa gelap, berdebu, dan pengap.

Gedung yang dibangun Belanda itu memiliki empat kamar. Ukurannya besar-besar. Beberapa barongsai dan perlengkapannya ada di sana. Termasuk peralatan tukang kayu. Semuanya ditata rapi di dinding. Gedung tersebut memang digunakan warga setempat untuk beraktivitas seperti membuat lampion atau perlengkapan barongsai. Tambak Bayan Tengah adalah salah satu kampung pecinan di Surabaya. Semua berawal di gedung bekas kandang kuda.

Setelah beberapa saat masuk, hawa dingin mulai menghampiri. Sesekali bulu kuduk ikut merinding. Apalagi saat Suseno Karja, ketua RT setempat, menunjukkan salah satu kamar. Tepatnya yang berada di urutan kedua dari sisi barat. ’’Di sini pernah ada penampakan anak kecil,’’ ucapnya.

Bangunan yang berdiri sejak 1866 itu cukup besar. Luasnya sekitar 3.800 meter persegi. Bagian tengahnya lebar. Suseno mengatakan, saat malam sering ada warga yang melihat benda seperti potongan kepala yang menggelinding. Sedangkan di bagian paling belakang ada apartemen gaib. Istilah itu disematkan karena saking banyaknya makhluk astral di sana.

Bagian belakang dulu adalah tempat dapur dan kamar mandi. Pria yang kerap disapa Asen tersebut menceritakan, dulu ada orang yang memotret dari belakang. Tujuannya, mengambil gambar dalam bangunan dari sisi selatan. Ternyata gambarnya tidak tampak, seakan kameranya rusak padahal tidak.

Kamar kedua dari sisi barat memiliki aura yang berbeda. Sosok perempuan tua konon berada di situ. Beberapa orang sempat melihatnya. Penampakan berseliweran warna putih menjadi hal yang biasa.

’’Kayaknya kamar-kamar di sini dihuni genderuwo,’’ kata Suseno.

Saking banyaknya makhluk tak kasatmata, Bambang tidak melakukan mediumisasi. Sebab, akibatnya fatal. Bisa mengganggu ’’mereka’’ yang beraktivitas di lokasi tersebut. Apalagi, gedung tua itu sekarang digunakan sebagai tempat kesenian. ’’Daripada terusik, lebih baik jangan,’’ ucapnya di lokasi.

Menurut Bambang, jumlah makhluk gaib sangat banyak. Tidak terhitung. Wujudnya juga banyak. Mulai anak kecil, perempuan, hingga genderuwo. Bahkan, yang wujudnya tak terbentuk juga ada. Kebanyakan makhluk tersebut berada di atap bangunan.

Banyaknya makhluk astral di lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, kondisinya pengap, sedikit remang-remang, dan lembap. Mereka semua adalah pendatang. Jadi, kata Bambang, genderuwo dan sebagainya itu bukan asli sini. Tempat ini menjadi rumah bagi makhluk tersebut.

Meski begitu, semua makhluk gaib itu tidak mengganggu. Asalkan tidak diganggu. Kalaupun ada renovasi bangunan, tidak masalah. Asalkan jangan diusir atau diberi pagar gaib. Mereka bisa marah dan mengganggu. ’’Kita ngomong begini saja mereka tersinggung,’’ ucap Bambang.

Saat berbincang, mendadak badan Suseno dan tim Jawa Pos terasa sedikit berat. Terutama di punggung. Hawa terasa begitu dingin. Tangan Suseno juga merinding. Menghindari sesuatu terjadi, Bambang langsung menetralisasi aura negatif yang ada. Sejak awal, liputan ini memang berbeda. Bambang sama sekali tidak menyalakan dupa. Interaksi dengan ’’penghuni’’ juga tidak dilakukan. Bambang tak mau mengganggu dengan harapan para makhluk tak kasatmata itu juga tak mengganggu aktivitas warga dan anak muda di situ.

Bambang meminta mereka tidak aneh-aneh. Apalagi sampai bermain dengan hal gaib di sana. ’’Kalau sekadar main musik dan kegiatan seni, tidak masalah,’’ terang Bambang.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore