Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Januari 2022 | 22.48 WIB

Gulirkan Wacana Jalur Khusus ala Busway di Surabaya

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Sistem transportasi massal terus diwacanakan Pemkot Surabaya. Tahun ini dishub akan memaksimalkan peran Suroboyo Bus sebagai transportasi publik. Selain diminati banyak wisatawan, angkutan itu juga mulai dimanfaatkan warga kota untuk berangkat dan pulang kerja

Kadishub Kota Surabaya Tundjung Iswandaru menyampaikan, jumlah penumpang Suroboyo Bus terus naik secara konsisten. Saat ini, jelas dia, angkutan low deck itu bisa mengangkut 3 ribu–4 ribu penumpang per hari. ”Banyak warga yang pakai Suroboyo Bus untuk berangkat dan pulang kerja,’’ kata Tundjung.

Ke depan pihaknya terus memaksimalkan transportasi umum itu. Salah satunya, membuat jalur khusus seperti busway di DKI Jakarta. Jalur khusus tersebut bisa mempersingkat waktu tempuh. Dengan begitu, Suroboyo Bus memungkinkan untuk tidak ikut terdampak macet di jalur reguler. ”Jalur khusus seperti busway ini mungkin saja. Karena transportasi publik harus memiliki jalur khusus,’’ jelas Tundjung.

Pengamat transportasi ITS Wahyu Heriyanto menilai, armada transportasi publik yang dimiliki Surabaya masih kurang banyak. Akibatnya, masyarakat jadi tidak memiliki banyak pilihan. Dampaknya, waktu menunggu calon penumpang juga lebih lama. Saat ini jumlah armada Suroboyo Bus sebanyak 30 unit. ”Bus kita kurang banyak. Kalau ditambah, mungkin orang akan lebih mudah pindah ke bus karena tidak perlu menunggu lama,’’ imbuhnya.

Selain itu, lanjut dia, Pemkot Surabaya harus semakin memopulerkan bus sebagai angkutan umum dalam kota. Kampanye manfaat menggunakan transportasi publik harus terus digaungkan. Pengguna mobil dan motor diimbau untuk beralih ke angkutan umum. ’’Jika ini tidak dikampanyekan dari sekarang, pasti Surabaya semakin macet,’’ tegas Wahyu.

Berdayakan Angkot untuk Dukung Operasional Suroboyo Bus


KORIDOR layanan Bus Trans Semanggi Suroboyo sudah diluncurkan pada Desember 2021. Enam koridor tersebut meliputi Terminal Purabaya–Tanjung Perak via Jalan Raya Darmo (koridor 1), Jalan Raya Lidah Wetan–Karang Menjangan–ITS (koridor 2), Terminal Purabaya–Kenjeran via MERR (koridor 3), GBT–Unesa–Mastrip (koridor 4), Terminal Benowo–Tunjungan (koridor 5), dan Terminal Purabaya–Unair Kampus C (koridor 6).

Koridor-koridor tersebut akan ditambah hingga berjumlah 10 koridor ke depan. Sementara itu, rute keenam koridor bus yang sudah diluncurkan dapat disambungkan dengan rute-rute mobil angkutan kota. ”Jadi, istilahnya mobil angkot itu menjadi kendaraan feeder yang menyambungkan penumpang untuk naik bus Trans Semanggi Suroboyo. Jaringan angkot itu juga bisa diperluas lagi sampai ke dalam area perumahan-perumahan,” kata pengamat transportasi Djoko Setijowarno.

Pemberdayaan angkot itu dilakukan untuk memaksimalkan angkot yang seolah kian ditinggalkan oleh masyarakat. Menurut Djoko, di banyak kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya, jumlah angkot semakin sedikit dan waktu tempuhnya sangat lama jika dibandingkan dengan armada transportasi umum lainnya.

Angkot yang sering ngetem membuatnya tidak lagi menjadi pilihan utama transportasi masyarakat. Untuk itu, jika jaringan layanan angkot diperluas hingga ke perumahan sekaligus menjadi kendaraan feeder, masyarakat akan lebih tertarik menggunakan angkot.

Sambil melengkapi layanan transportasi umum, menurut Djoko, Pemkot Surabaya juga bisa mulai merancang kebijakan yang lebih mengetatkan penggunaan kendaraan pribadi. Misalnya, dengan menaikkan tarif parkir atau membuat kebijakan jalan berbayar (electronic road pricing/ERP).

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore