Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Oktober 2021 | 23.27 WIB

Cerita Sukses Kampung Ikan Asap di Sidoarjo

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Sejak 1970, Desa Penatarsewu, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, dikenal sebagai kampung ikan asap. Hingga kini, ada 80 tempat produksi ikan asap. Satu tempat produksi bisa menghabiskan sabanyak 1 kuintal ikan dalam sehari. Hasilnya tak hanya tersebar di Sidoarjo. Bahkan sampai Pasuruan, Mojokerto, hingga Surabaya.

Sekretaris Desa (Sekdes) Penatarsewu Heriyanto menyebutkan, produksi ikan asap di desanya sudah jadi mata pencaharian mayoritas warga. Satu tempat produksi saja, berhasil menampung belasan sampai puluhan karyawan. Mulai karyawan yang membersihkan ikan, mengasapi, hingga yang memasarkan.

”Ikannya mulai mujaer, lele, bandeng, kadang juga udang,” kata Heri.

Di masa PPKM, produksi sempat menurun sampai 50 persen. Belakangan, kini sudah pulih. Alhasil, penghasilan warga juga mulai kembali. Keuntungan produksi ikan asap lumayan. Untuk bahan baku ikan mentah seperti mujaer, 1 kilogram biasanya dibeli Rp 19 ribu sampai Rp 20 ribu. Ketika sudah diasap, harganya per kilogram bisa mencapai Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu.

Berkembangnya kampung ikan asap di sana tak lepas dari peran PT Pertamina Gas. Sejak 2013, perusahaan tersebut melakukan perbaikan infrastruktur rumah pengasapan ikan. ”Mulai intensif pendampingan sejak 2017. Saat itu, perbaikan infrastruktur juga pemberian cool box agar bahan baku tahan lama,” terang Head of External Relation East Region Pertamina Gas Tedi Abadi Yanto. Tujuannya, mendongkrak produksi.

Pada 2018 dilanjutkan diversifikasi produk seperti pengemasan ikan asap dengan vakum. Tujuannya, agar lebih tahan lama dan bisa dikirim ke luar daerah yang lebih jauh. Pada 2019, kali pertama resto yang menyajikan produk desa dibangun. Yakni, Resto Apung Seba.  Nah, pada 2020, tantangan muncul lantaran pandemi. Inovasinya, mereka kerja sama dengan platform digital, juga melayani katering.

Selain resto, warga sekitar diberdayakan untuk membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM) pengelolaan sampah. Yang menarik, KSM tersebut sekaligus membudidayakan magot. Sampah organik yang terkumpul jadi bahan makanan magot tersebut.

Hasil panen magot untuk bahan pakan ikan dan burung. Lapangan pekerjaan hasil program pendampingan itu pun semakin terbuka lebar. 

 

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore