
BERLATIH KERAS: Jefri Setiawan memainkan piano dengan mata tertutup saa sesi latihan di Jakarta (19/3). (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)
JawaPos.com- Selama masa pandemi, aktivitas anak-anak banyak dihabiskan di depan layar laptop maupun handphone. Baik untuk belajar secara daring atau bermain. Dampaknya, berpotensi membuat kondisi kesehatan mata anak menurun.
Karena itu, Departemen Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) bersama Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami) Jawa Timur menggelar visus mata drive-thru kemarin (17/10).
Ketua Perdami Wilayah Jatim dr Muhammad Firmansjah SpM(K) mengatakan, sering kali seseorang tidak sadar ada penurunan fungsi mata. Hal itu berlangsung perlahan. Apalagi terjadi pada anak-anak yang kerap belum bisa mengeluhkan sesuatu.
’’Jadi, sasaran pemeriksaan ketajaman mata (visus) ini ditujukan kepada anak-anak. Meski, orang dewasa juga banyak,” katanya kepada Jawa Pos di sela-sela kegiatan visus mata drive-thru di depan aula FK Unair.
Menurut Firmansjah, angka kasus progresivitas miopia terus naik. Bahkan, tanpa disadari kasus tersebut semakin meningkat selama pandemi. Sebab, sebagian besar aktivitas para pelajar, mahasiswa, maupun pekerja dilakukan melalui layar laptop dan gadget. ’’Ada peningkatan progresivitas kasus-kasus refraksi,” imbuhnya.
Hal itu dibuktikan pada kegiatan visus mata drive-thru kemarin. Sebagian anak yang menjalani skrining menunjukkan adanya masalah mata yang tidak normal. Ada yang low vision ringan dan berat. ’’Mereka pun dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” ujar dia.
Firmansjah menuturkan, ada empat hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mata. Pertama, preventif, bisa dengan memenuhi nutrisi yang baik untuk menjaga kesehatan mata. Kemudian, menggalakkan Gerakan 20.20. Yakni, setiap 20 menit melihat jarak yang tetap, lalu 20 detik dengan memandang sesuatu yang jaraknya lebih dari 6 meter. ’’Sebab, mata kita dalam kondisi rileks setelah jarak 6 meter,” ujarnya.
Kedua, protect. Caranya dengan menggunakan kacamata pelindung dari sinar ultraviolet. Khususnya pada saat beraktivitas di luar rumah. Ketiga, presolve. Yakni, melakukan pemeriksaan enam bulan sekali. Minimal setahun sekali. Jika ada penyakit tertentu, langsung dilakukan terapi. ’’Keempat, prioritas. Yakni, menjadwalkan pemeriksaan mata ketika ada keluhan,” katanya.
Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK Unair dr Evelyn Komaratih SpM (K) mengatakan, pemeriksaan ketajaman penglihatan secara drive-thru tersebut dibuka dengan registrasi kendaraan roda empat dan roda dua. Mereka yang datang dapat langsung dilayani skrining dengan aplikasi Peak Acuity.
’’Mereka dites melalui aplikasi tersebut dengan jarak 2 meter. Jika derajat penglihatannya 6/6, itu berarti normal. Namun, jika kurang dari 6/6, harus disarankan pemeriksaan lanjutan,” jelasnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
