Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Agustus 2021, 22.17 WIB

Seribu Anak di Surabaya Kehilangan Orang Tua karena Pandemi

Sejumlah anak-anak saat bermain di pagar pembatas isolasi di  pemukiman warga RW 03, Kelurahan Gandasari, Kota Tangerang, Banten, Jumat (11/6/2021).  RW 03 Kelurahan Gandasari Tangerang memberlakukan lockdown skala mikro setelah lebih dari puluhan warga t - Image

Sejumlah anak-anak saat bermain di pagar pembatas isolasi di pemukiman warga RW 03, Kelurahan Gandasari, Kota Tangerang, Banten, Jumat (11/6/2021). RW 03 Kelurahan Gandasari Tangerang memberlakukan lockdown skala mikro setelah lebih dari puluhan warga t

JawaPos.com–Terdapat 4 kabupaten/kota dengan jumlah anak yatim piatu akibat pandemi tertinggi di Jatim. Angka itu masih dinamis sehingga pendataan masih terus dilakukan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur Andriyanto mengatakan, orang tua mereka meninggal karena terpapar Covid-19. Surabaya menjadi kota dengan jumlah anak yatim piatu terbesar di Jawa Timur.

”Surabaya tertinggi. Total hingga saat ini ada 1449 anak yatim piatu, yatim, atau piatu di Surabaya,” tutur Andriyanto pada Rabu (25/8).

Angka itu dinilai cukup tinggi bila dibandingkan dengan kabupaten/kota lain. Selain Surabaya, wilayah lain dengan jumlah anak yatim tertinggi adalah Nganjuk, Banyuwangi, dan Magetan.

Hingga saat ini, pihaknya mendata terdapat 5.563 anak yang orang tuanya meninggal dunia. ”Tercatat ada 5.563 yang meninggal, baik 1 atau 2 orang tua sekaligus,” jelas Andriyanto.

Dari total 5.563 itu, sebanyak 3.089 merupakan anak yatim, sedangkan 278 yatim piatu. ”Sebanyak 2.196 piatu, 3.089 yatim piatu. Jadi total yatim piatu sebanyak 55 persen dari total anak yang orang tuanya meninggal dunia karena pandemi,” beber Andriyanto.

Data anak-anak yatim piatu itu, tidak dilengkapi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK). ”Takut data pribadi terekspos,” ujar Andriyanto.

Kebutuhan untuk menangani dan merawat anak yatim piatu itu cukup besar. Terlebih bagi anak-anak yang datang dari keluarga masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR.

Ditanya jumlah anak-anak yatim piatu yang masuk dalam golongan MBR, Andriyanto mengaku, belum melakukan pendataan. Sebab, DP3AK fokus pada pendataan siapa saja anak yang ditinggal orang tuanya.

”Belum mengelompokkan MBR atau enggak. Fokus mendata jumlah dan bagaimana harus membantu mereka,” ucap Andriyanto.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore