
GEDUNG DAN PERUMAHAN: Potret kawasan Surabaya Barat beberapa waktu lalu. Investasi yang masuk ke wilayah barat terus bertambah.
JawaPos.com – Harga pasaran tanah di Surabaya kian melambung. Di sejumlah kawasan, persentase kenaikannya bisa mencapai 10 hingga 20 persen per tahun. Pengusaha menilai kenaikan harga tanah itu wajar selepas pandemi.
Misalnya, di kawasan Tunjungan–Praban–Blauran. Harga persil di tiga wilayah yang disebut sebagai segitiga emas itu naik. Di Tunjungan, pascapandemi, harga tanah per meternya kini naik Rp 10 juta.
Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Jatim Rudy Sutanto mengatakan, harga tanah di Tunjungan per meternya bisa tembus Rp 40 juta–50 juta.
Sementara itu, saat Covid-19 lalu, harga per meternya hanya Rp 30 jutaan. ”Ada penyesuaian. Harga sekarang naik,” ucapnya.
Menurut Rudy, kenaikan harga itu sudah sewajarnya. Saat pandemi, harga tanah turun karena kondisi ekonomi turun. ”Bisa dibilang Jalan Tunjungan ini downtown (pusat kota)-nya Surabaya,” paparnya.
Meski harganya cenderung naik, Rudy memprediksi kenaikannya tak banyak. Itu disebabkan keterbatasan lahan. Sedangkan, para investor membutuhkan tanah minimal 1–2 hektare untuk membangun satu unit superblok.
”Lahan yang diperjualbelikan ukurannya kecil di bawah dua ribu meter persegi,” terangnya.
Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Daerah Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (BPOD REI) Jatim Danny Wahid mengatakan, kenaikan harga tanah kosong dipatok 10 persen tiap tahun. ”Itu dalam kondisi normal, untuk tanah yang tidak diolah ya,” tuturnya.
Namun, apabila tanah tersebut berada di kawasan dengan pengembangan yang pesat, kenaikannya tentu sangat signifikan.
”Seperti di Surabaya Barat, kalau tanah itu ada di kawasan pengembang swasta yang masih rajin membangun dan punya cadangan tanah banyak, harganya bisa naik 20 persen itu,” ucapnya.
Menurut dia, kawasan Surabaya Barat masih memiliki potensi pengembangan yang pesat. Itulah yang membedakan persentase kenaikan harga di Surabaya Barat dengan kawasan Surabaya yang lain.
Baca Juga: Sama-Sama Mengaku Publikasikan Lebih Dulu, Pengklaim Hak Cipta Lagu Obuk Celleng Saling Gugat
”Kalau tanahnya ada di lokasi yang sangat bagus, ada yang mampu jual Rp 75 juta–80 juta per meternya. Itu di salah satu perumahan Surabaya Barat,” tuturnya.
Wakil Ketua Umum Bidang Properti Kadin Jawa Timur itu juga menegaskan bahwa kenaikan harga tanah harus dipandang dengan cermat. Sebab, kenaikan yang ada sebenarnya belum berhasil mengembalikan harga tanah ke titik normal sebelum pandemi.
Kenaikan itu terkesan besar karena penurunan harga properti saat pandemi sangat signifikan. Sementara itu, pemkot belum berencana menaikkan NJOP mendekati harga pasaran tanah. Diperkirakan tahun ini hingga tahun depan, NJOP Surabaya tetap.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
