
KUAT MENAHAN GERAH: Perawat pasien Covid-19 di RSUA harus betah mengenakan baju hazmat dalam waktu lama. Tak jarang, mereka mandi keringat saking panasnya baju tersebut saat dipakai. (Bangun Mukti Abdi for Jawa Pos)
Para tenaga kesehatan (nakes) yang merawat langsung pasien Covid-19 tidak hanya harus memiliki mental yang kuat, tetapi juga fisik yang prima. Terlebih ketika mereka mesti menyiasati penggunaan alat pelindung diri (APD). Untuk menghemat stok, para nakes harus kuat menggunakan baju hazmat hingga berjam-jam.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
Rasanya begitu pengap. Panas. Keringat bisa bercucuran di seluruh tubuh. Tetesan keringat itu bahkan hampir masuk ke pelupuk mata. Gerahnya tidak tertahankan. Di sisi lain, tangan tidak mampu menyeka keringat yang terus-terusan menetes.
Kacamata goggle yang menutup hampir separo wajah itu pun mengembun. Acap kali menghalangi pandangan ketika akan mengambil tindakan kepada pasien. Masker N95 yang digunakan juga seakan membuat sulit bernapas. Sesaknya ampun-ampunan. Bagi perawat, itu seperti terperangkap di dalam kamar sauna dengan suhu tinggi.
Itulah yang hari-hari ini dirasakan Bangun Mukti Ardi, kepala Unit Perawatan Khusus Lantai 4 RSKI Unair, ketika mengenakan baju hazmat dengan APD lengkap. Setidaknya, dia harus bertahan 2‒3 jam setiap kali masuk ke ruang isolasi khusus (RIK). Para perawat pun harus menyiapkan fisik yang kuat agar tidak terjadi insiden terhadap diri sendiri. ’’Jika tidak kuat, bisa pingsan,’’ kata Bangun.
Meski para perawat sudah mendapat pembekalan tentang perawatan pasien Covid-19, persebaran virus yang begitu cepat itu membuat mereka harus ekstrahati-hati. Termasuk dalam penggunaan hazmat dan APD lengkap. Salah urutan melepas hazmat dan APD bisa berisiko tinggi terpapar virus. ’’Cara pakai hazmat harus urut. Melepasnya juga harus urut,’’ ucapnya.
Sebab, hazmat dan APD yang sudah digunakan untuk merawat pasien terkontaminasi dengan virus. Karena itu, setelah selesai memberikan perawatan, nakes harus langsung ke kamar kecil melepas sesuai dengan urutan dan memastikan tangan sudah dicuci dengan sabun. ’’Ke mana-mana harus bawa sabun tangan. Bersihkan tangan berulang-ulang pakai hand scrub juga,’’ kata dia.
Bangun menyatakan, bagi yang sudah terbiasa, pemasangan hazmat hanya membutuhkan waktu 5 menit. Namun, bagi perawat yang baru kali pertama bertugas, penggunaannya bisa sampai 15 menit. Kadang, perawat lain membantu memasangkan hazmat. ’’Karena baju yang dipakai harus berlapis-lapis,’’ ujarnya.
Belum lagi, mereka harus tahan berjam-jam di ruang isolasi khusus untuk merawat pasien. Setidaknya, sekali masuk ke RIK, perawat harus menggunakan hazmat selama 2‒3 jam. Itu pun jika pasien dalam kondisi klinis ringan dan sedang. Apabila pasien dengan kondisi klinis berat yang berada di ruang intensive care unit (ICU), perawat harus tahan menggunakan hazmat lebih lama: sekitar 4 jam. ’’Baju hazmat ini sangat panas. Bermandikan keringat,’’ katanya.
Bangun menuturkan, cukup banyak pengalaman perawat yang menggunakan hazmat dengan penuh derita. Bahkan, lima hari lalu ada perawat yang pingsan di nurse station saat merawat pasien dengan menggunakan hazmat selama 2,5 jam. Kebetulan juga, perawat tersebut baru kali pertama di-rolling di RIK.
’’Saya angkat dia (perawat) dan langsung diberi penanganan. Sekarang sudah sehat. Butuh adaptasi pakai hazmat di awal-awal,’’ ujarnya.
Belum lagi ketika keringat di dalam baju hazmat menetes ke mata. Rasanya sangat perih. Jadi, mau menginfus pasien pun sulit. Apalagi kalau kacamata goggle mengembun. ’’Kalau mau infus kan harus mencari pembuluh darahnya dulu. Kadang kalau sudah benar-benar berkeringat dan mata perih, kami harus paksakan diri untuk menyelesaikan tindakan perawatan,’’ kata dia.
Bahkan, perawat harus siap mendengarkan keluhan pasien yang dirawat inap. Khususnya tentang kondisi psikologis pasien. Kadang, pasien hanya menangis terus di dalam ruangan. Perawat harus benar-benar tahu apa yang dibutuhkan pasien. ’’Padahal, ada sambungan telepon, tetapi pasien baru bisa cerita ketika memang ada pendekatan yang bagus,’’ ujarnya.
Ya, di satu sisi, para perawat yang bertugas sudah tidak tahan dengan panasnya hazmat dan APD yang digunakan. Namun, di sisi lain, mereka harus bertahan lebih lama di ruang isolasi untuk mendengarkan segala keluhan pasien. Meski sekadar curhat. ’’Satu jam saja rasanya sudah tidak keruan,’’ kata dia.
Kalau pasien agak banyak, perawat pun harus memberikan perawatan sekaligus. Itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Mulai memberikan makanan, obat, menyeka pasien, mengganti seprai, memantau perkembangan pasien, hingga mendengarkan keluhan. ’’Biar tidak bolak-balik karena APD-nya terbatas. Kami harus berhemat. Jadi, jam perawatan pasien disesuaikan,’’ ujarnya.
Belum lagi, perawat harus menghadapi tingkah pasien yang beragam. Ada yang tiba-tiba menangis sendiri karena ingin pulang. Sebab, di dalam ruang isolasi, pasien merasa stres. Tiba-tiba pasien ingin keluar sendiri. ’’Saking lelahnya, kami tidak bisa tidur. Paling bagus tidur tiga jam sehari,’’ katanya.
Banyak duka yang dirasakan para nakes. Sebagai salah satu garda terpenting dalam penanganan Covid-19, mereka harus siap dan ikhlas menjalankan tugas. Bukan hanya fisik, psikis pun kadang sempat terganggu. Sebab, bukan hanya urusan di rumah sakit yang menjadi beban. Mereka juga harus menghadapi beragam reaksi di lingkungan masyarakat.
Tidak sedikit di antara mereka yang indekos mendapat perlakuan kurang baik dari lingkungan. Ada juga yang diusir dari pemilik kos karena takut membawa virus. Belum lagi, perawat yang memiliki keluarga di rumah harus rela tidak pulang karena takut jika membawa virus.
Saat ini sudah ada 16 perawat yang mendaftar untuk tinggal di dormitory RSKI Unair karena kondisi lingkungan tempat tinggal yang tidak mendukung. Mereka sehari-hari tinggal di dormitory agar tidak mendapat stigma dan diskriminasi. ’’Kadang situasinya karena di rumah ada ibunya sakit jantung, ada anak kecil, orang tua. Jadi, dengan sadar memilih tinggal di dormitory,’’ kata pria 32 tahun itu.
Rencananya, RSKI juga membangun lebih banyak dormitory untuk para nakes yang tidak memungkinkan pulang ke rumah. Di dalam dormitory, mereka juga akan mendapat makan dan vitamin.
Nissa Aruming Sila, kepala Unit Perawatan Khusus Lantai 3 RSKI Unair, merasakan hal yang sama. Dia terpaksa jarang berjumpa dengan anak dan suaminya. Sebab, dia harus menghabiskan banyak waktu di rumah sakit. Menangani pasien-pasien orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan pasien terkonfirmasi positif Covid-19. ’’Sebelum anak tidur, saya sempatkan video call. Setidaknya bisa mengobati kerinduan,’’ katanya.
Nissa menyatakan, rasa lelah pasti dialami semua perawat. Meskipun sudah dibagi menjadi beberapa sif jaga. Namun, tidak pernah ada yang tahu situasi di rumah sakit. Jika pasien rawat inap mulai banyak, tidak ada yang namanya istirahat. Semua harus bekerja. Menggunakan pakaian hazmat yang panasnya tidak terkira tadi. ’’Karena niatnya menolong pasien. Setiap lihat pasien lebih parah kondisinya, kami harus menolong,’’ tuturnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=6smf6ccIYrw
https://www.youtube.com/watch?v=cwhh4R_v_Iw
https://www.youtube.com/watch?v=eD-vKNfjfzA

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
