Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Februari 2020 | 00.07 WIB

Cie Suak, Ritual Buang Sial di Awal Tahun Imlek

AGAR BERUNTUNG: Suhu Gunawan menyiramkan air pada orang yang ingin buang sial dalam ritual Cie Suak kemarin. Diyakini, dengan ritual ini, mereka akan terhindar dari kemalangan sepanjang tahun. (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

AGAR BERUNTUNG: Suhu Gunawan menyiramkan air pada orang yang ingin buang sial dalam ritual Cie Suak kemarin. Diyakini, dengan ritual ini, mereka akan terhindar dari kemalangan sepanjang tahun. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com - Sehari setelah perayaan Cap Go Meh, Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hong San Ko Tee mengadakan Cie Suak. Yakni, ritual tolak bala yang menjadi kebiasaan setiap permulaan tahun dalam kalender Tionghoa.

Masyarakat keturunan Tionghoa meyakini, setiap tahun selalu ada shio-shio yang lebih apes atau jiong daripada shio lainnya. Karena itu, dilakukan Cie Suak untuk memohon doa restu kepada Thian Yang Mahamulia serta para Buddha dan dewa-dewi. Diharapkan, shio-shio yang jiong selalu mendapat perlindungan dari segala tantangan dan cobaan.

’’Istilahnya ruwatan atau buang sial. Setelah Cie Suak, anggapannya bukan berarti nggak akan sial sama sekali, bukan. Tapi, kalaupun ada masalah, bisa diselesaikan dan dilewati dengan baik,’’ ujar Sudiman, salah seorang pengurus kelenteng.

Dia menjelaskan, pada Tahun Tikus Logam 2571 ini, ada empat shio yang dianggap jiong. Yaitu, shio tikus, kuda, ayam, dan kelinci. Namun, shio lain di luar itu pun tetap bisa mengikuti Cie Suak.

’’Yang jiong juga dianjurkan ikut. Sebab, nggak mungkin dalam setahun itu kita nggak apes,’’ tutur lelaki 34 tahun tersebut.

Ritual yang dipimpin suhu Gunawan dan dibantu suhu Joko Lelono itu diikuti ratusan umat. Setiap umat yang melakukan ritual juga membawa beberapa barang sebagai persyaratan. Misalnya, baju bekas yang masih layak pakai untuk disumbangkan, handuk, uang logam tiga keping, dan peralatan sembahyang.

Mereka mengawali ritual dengan sembahyang. Setelah itu, mereka berbaris untuk mendapatkan siraman air mawar dari suhu. Suhu Gunawan menyiram kepala setiap umat dengan air mawar yang diambil dari dalam gentong. Jumlah siraman setiap orang bisa berbeda-beda. Ada yang tiga kali, ada juga yang sampai delapan kali. ’’Berdasar getaran yang saya terima. Makin negatif getarannya, makin banyak air yang disiramkan,’’ jelas Gunawan. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore