
RESIDIVIS: Dwi Purwanto (kanan) menjelaskan modus pengiriman narkoba yang dilakukannya kepada Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho. (Robertus Risky/Jawa Pos)
JawaPos.com – Fakta baru muncul dari pengembangan jaringan dua kurir yang ditembak mati polisi pada Minggu malam lalu (1/12). Satresnarkoba Polrestabes Surabaya menemukan benang merah bahwa kelompok mereka terhubung dengan seorang napi di Lapas Kelas I Madiun.
Kasatresnarkoba Polrestabes Surabaya Kompol Memo Ardian menyatakan, keterlibatan napi itu muncul dari penyidikan terhadap Dwi Purwanto. Warga Malang tersebut merupakan tersangka yang masih satu jaringan dengan dua kurir yang ditembak mati. ”Dwi kenal dengan napi itu saat masih menjadi penghuni lapas,” ujarnya kemarin (3/12). Pria 46 tahun tersebut memang residivis.
Dwi, lanjut Memo, pernah ditangkap karena perkara narkoba pada 2013. Dia mendapat vonis lima tahun. ”Baru keluar tahun lalu. Eh, sudah gabung jaringan lagi,” sambung polisi dengan satu melati di pundak itu Memo menjelaskan, keterlibatan napi tersebut kini masih didalami penyidik. Dia sudah mengirim polisi ke Madiun untuk menggali data lebih banyak. ”Dwi dan dua kurir yang mendapat penindakan di Sukomanunggal bernaung dalam satu jaringan yang sama. Harapan kami, penyidikan terhadap sindikat mereka bisa terus dikembangkan,” paparnya.
Dwi dan dua kurir yang tewas, kata dia, sama-sama terkoneksi dengan jaringan Sokobanah, Sampang. Meskipun satu sindikat, mereka berbeda kelompok. ”Bandar Malaysia membuat banyak kelompok pengiriman untuk mengantisipasi penindakan petugas. Gampangnya, kalau ada yang digagalkan, masih ada kemungkinan kelompok lain untuk tetap lolos,” terangnya.
Memo menyebut jaringan narkoba selalu bergerak dinamis. Mereka tidak pernah berhenti mencari cara agar barang yang diedarkan lolos dari sergapan aparat keamanan. ”Jadi tantangan tersendiri bagi kami membongkar habis kelompoknya,” kata alumnus Akpol 2002 tersebut.
Mantan Kasatreskrim Polresta Balerang itu menambahkan, dirinya menerjunkan empat tim untuk memburu dua nama dari jaringan tersebut. Masing-masing berinisial MA dan D. Mereka adalah pemesan narkoba jenis sabu-sabu yang telah diamankan sebagai barang bukti. ”Dari Sampang semua,” tuturnya.
Sebagaimana diberitakan, polisi menembak mati dua kurir narkoba pada Minggu malam (1/12). Yakni, Tonny Ganda Wijaya, 34, warga Sidoarjo, dan Deny Saipul Anwar, 26, warga Malang. Mereka mendapat tindakan tegas karena melawan petugas agar bisa melarikan diri saat dikeler ke wilayah Sukomanunggal. Dua nama tersebut sebelumnya ditangkap di Riau setelah polisi mengembangkan keterangan Dwi yang lebih dulu tertangkap di Stasiun Pasar Turi.
Dwi dan tersangka yang tewas punya modus berbeda dalam mengirim narkoba yang sama-sama berasal dari Malaysia. Dwi menyimpan 300 gram SS di kardus ponsel. Di sisi lain, Tonny dan Deny menyembunyikan 2 kilogram SS di dalam mainan berbentuk sepeda dari plastik.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
