
PENAMPUNGAN SEMENTARA: Ratusan drum material semburan menumpuk di lahan aset pemkot di Jalan Raya Kutisari. (Robertus Risky/Jawa Pos)
JawaPos.com - Hingga kemarin (25/9) semburan minyak di Jalan Kutisari Indah Utara III, Kelurahan Kutisari, Kecamatan Tenggilis, masih terjadi. Pemkot memutuskan menampung semburan minyak tersebut ke dalam drum untuk sementara waktu. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya mencatat aktivitas semburan itu kini didominasi konsentrasi air yang lebih tinggi.
Kandungan air dalam semburan terpantau lebih banyak ketimbang minyak mentah kemarin. Berbeda dengan saat kali pertama semburan muncul pada Senin (23/9), minyak pekat lebih banyak. Dengan begitu, cairan kental itu sangat memungkinkan ditampung dalam karung.
Namun, karena kondisi yang berubah, kini wadah penampungan diganti drum. Tong besi itu dipasok oleh dinas pekerjaan umum bina marga dan pematusan (DPUBMT). Bekas wadah aspal. Total ada 28 drum yang didrop di lokasi semburan. Hingga kemarin sore, separo drum dengan kapasitas 200 liter sudah terisi.
Dua satgas DPUBMP juga disiagakan di lokasi. Tanpa henti mereka mengurangi volume di penampungan sementara untuk dipindah ke drum. Ada ide untuk memasang pompa agar lebih mudah. Namun, dinas lingkungan hidup (DLH) masih menunggu keputusan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jatim Kepala DLH Eko Agus Supiadi mengatakan sudah berkoordinasi dengan Dinas ESDM Jatim dan Pertamina. Nanti penanganan lebih lanjut diserahkan ke badan usaha milik negara (BUMN) tersebut. ’’Untuk sementara kami hanya memantau kualitas udaranya. Langkah lanjutan seperti apa akan didiskusikan oleh pihak terkait,” katanya.
Agus menyebutkan, kandungan udara di lokasi terus membaik. Meski, kondisi tersebut terus fluktuatif. ’’Kandungan sulfur atau belerang turun dari awalnya 86 persen menjadi 66 persen saja,” ujarnya.
Pada pukul 12.30 kemarin, kandungan sulfur yang terdeteksi mencapai 1.300 mikrogram per normal meter kubik. Berbeda dengan kondisi sebelumnya yang hanya di kisaran 800–900 mikrogram per normal meter kubik. DLH mencatat, saat malam intensitas semburan dan gas yang muncul lebih kecil daripada saat siang.
Pantauan itu dilakukan terus-menerus hingga seminggu ke depan. Kemarin DLH juga mengambil sampel air untuk diuji hidrokarbon. ’’Hasil itu yang menentukan apakah airnya berbahaya atau tidak. Kalau tidak, airnya bisa dialirkan langsung ke saluran,” tambah Agus.
Sementara itu, drum yang penuh rencananya akan ditangani Dinas ESDM Jatim. Karena termasuk barang berbahaya, penanganannya harus khusus. Tidak bisa dibuang sembarangan.
Kasi Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Lingkungan Hidup DLH Ulfiani Ekasari menambahkan, kandungan air yang semakin tinggi menjadi indikasi bahwa potensi semburan sudah turun. Namun, belum bisa dipastikan kapan benar-benar berhenti. ’’Hasil koordinasi kami dengan Dinas ESDM Jatim seperti itu,” jelasnya.
Selain itu, suhu yang rendah mengindikasikan bahwa semburan tersebut merupakan hasil tekanan dari dalam. Bisa jadi, adanya gempa di Tuban beberapa waktu lalu merupakan pemicunya. Begitu juga semburan di Gresik, indikasinya sama.
DLH mencatat, semburan itu hanya bersuhu 29 derajat Celsius. Jika semburan sifatnya vulkanis, suhunya bisa lebih tinggi. Bisa sampai 290 derajat Celsius.
Ulfiani menyebutkan, timnya juga menemukan semburan lain. Hanya, intensitasnya sangat kecil. Lokasinya tidak jauh dari semburan di Jalan Kutisari Indah III.
Meski demikian, warga tidak perlu khawatir. Sebab, kandungan metana yang rendah tidak akan mudah tersulut api. ’’Kalau kandungannya sudah di atas 98 persen, itu yang berbahaya dan bisa menimbulkan api,” ujarnya.
SEMBURAN DI SURABAYA: Satgas DPUBMP menampung minyak yang menyembur dari sebuah rumah di Kutisari Indah Utara III. Sampai kemarin, 14 drum sudah terisi minyak. (Robertus Risky/Jawa Pos)
Berbeda halnya dengan semburan minyak dan lumpur di Kelurahan Gunung Anyar, Kecamatan Gunung Anyar. Ulfiani menyebut lokasi itu sebagai gunung lumpur Cairan yang keluar didominasi lumpur. Kandungan minyaknya sangat sedikit.
Rencananya, Pemkot Surabaya mengubah lokasi tersebut menjadi taman edukasi. Dinas kebersihan dan ruang terbuka hijau (DKRTH) akan membangun taman berkonsep geologi. ”Detail engineering design (DED) untuk Taman Geologi sudah rampung,” ujar Kasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) DKRTH Rochim Yuliadi.
Rochim menyatakan, akhir tahun nanti pembangunan masuk proses lelang. Dengan demikian, pada Januari, pembangunan bisa dimulai.
Taman itu akan dikonsep untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang fenomena geologi. Desain lanskapnya bakal mendukung lokasi tersebut. ”Termasuk vegetasi tanamannya. Dibuat untuk memperkuat kesan geologinya,” ujarnya. Misalnya, memakai tanaman di daerah pegunungan berapi.
Selain taman, sarana pelengkap lain bakal dibangun. Di antaranya, sarana bermain dan olahraga. Juga ada sentra wisata kuliner (SWK) untuk mendukung perekonomian warga. (gal/c6/git)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
