
A. Helmy Faishal Zaini
Maka tidak mengherankan jika arus radikalisme yang sedang melanda Indonesia saat ini sesungguhnya saling berkelindan dengan jaringan internasional. Indonesia berada dalam arus pusaran radikalisme atau bahkan terorisme internasional.
Pertanyaannya kemudian, di mana posisi Nahdlatul Ulama (NU)? Pertanyaan itu beberapa kali ditujukan beberapa orang kepada saya secara langsung. Terutama mereka yang menganggap NU tidak memiliki sikap dan cenderung tidak berbuat banyak dalam aksi-aksi mutakhir yang melibatkan jutaan orang di ibu kota.
Dalam NU, dalam berdakwah setidaknya kita diajari untuk mengerti esensi dakwah dan tata cara dakwah. Esensi dakwah itu menyangkut pemahaman yang baik apa itu dakwah secara ontologis dan epistemologis.
Dalam NU dakwah itu mengajak. Ajakan yang terbaik justru bukan dengan cara menceramahi. Ajakan yang terbaik justru dengan cara memberikan teladan. Wali Sanga adalah referensi paripurna yang bisa dijadikan renungan. Dalam berdakwah, para wali cenderung kompromistis dan tidak kaku. Wali Sanga bukan permisif, tapi lebih bisa meramu ajaran Islam dibumbui dengan kebudayaan sepanjang tidak bertentangan dengan syariat. Jadi, alih-alih mereka sibuk mengafirkan, yang dilakukan jika melihat umat yang tidak benar justru menuntunnya, bukan menghardiknya.
Gradasi berdakwah juga penting. Mula-mula tingkatannya adalah dengan hikmah, kemudian dengan mauizah hasanah (nasihat yang baik). Jika dua metode tersebut masih tidak berhasil, jika terpaksa kita diberi pilihan untuk berdebat. Itu pun dengan catatan harus dengan cara-cara yang baik (billati hiya ahsan).
Bandul Keindonesiaan
Dalam pada itu, jika membincangkan kondisi mutakhir Indonesia, saya membayangkan di sana terdapat sebuah bandul. Bandul tersebut memiliki dua sudut atau kutub. Kutub sebelah kanan adalah agama dan kutub sebelah kiri adalah paham kebangsaan. Posisi sekarang bandul kita ada di sebelah kanan persis. Dengan posisi bandul yang berada di sebelah kanan persis tersebut, pandangan-pandangan yang dihasilkan pun cenderung konservatif.
NU dari awal mula berdirinya selalu berusaha menjaga bandul itu berada persis di tengah-tengah. Tidak terlampau ekstrem kanan maupun terlampau ekstrem kiri. Tidak terlalu liberal-permisif dan juga tidak rigid-konservatif.
Walhasil, di sanalah NU berada. Di tengah arus konservatisme, NU tetap berkonsentrasi menjaga moderatisme dengan tetap mengarahkan bandul keindonesiaan ada di tengah-tengah kutub paham kebangsaan dan kutub agama. Wallahu a’lam. (*)
*Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
