Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 Januari 2017 | 20.07 WIB

Indonesia di Pusaran Radikalisme Global

A. Helmy Faishal Zaini - Image

A. Helmy Faishal Zaini


Maka tidak mengherankan jika arus radikalisme yang sedang melanda Indonesia saat ini sesungguhnya saling berkelindan dengan jaringan internasional. Indonesia berada dalam arus pusaran radikalisme atau bahkan terorisme internasional.


Pertanyaannya kemudian, di mana posisi Nahdlatul Ulama (NU)? Pertanyaan itu beberapa kali ditujukan beberapa orang kepada saya secara langsung. Terutama mereka yang menganggap NU tidak memiliki sikap dan cenderung tidak berbuat banyak dalam aksi-aksi mutakhir yang melibatkan jutaan orang di ibu kota.


Dalam NU, dalam berdakwah setidaknya kita diajari untuk mengerti esensi dakwah dan tata cara dakwah. Esensi dakwah itu menyangkut pemahaman yang baik apa itu dakwah secara ontologis dan epistemologis.


Dalam NU dakwah itu mengajak. Ajakan yang terbaik justru bukan dengan cara menceramahi. Ajakan yang terbaik justru dengan cara memberikan teladan. Wali Sanga adalah referensi paripurna yang bisa dijadikan renungan. Dalam berdakwah, para wali cenderung kompromistis dan tidak kaku. Wali Sanga bukan permisif, tapi lebih bisa meramu ajaran Islam dibumbui dengan kebudayaan sepanjang tidak bertentangan dengan syariat. Jadi, alih-alih mereka sibuk mengafirkan, yang dilakukan jika melihat umat yang tidak benar justru menuntunnya, bukan menghardiknya.


Gradasi berdakwah juga penting. Mula-mula tingkatannya adalah dengan hikmah, kemudian dengan mauizah hasanah (nasihat yang baik). Jika dua metode tersebut masih tidak berhasil, jika terpaksa kita diberi pilihan untuk berdebat. Itu pun dengan catatan harus dengan cara-cara yang baik (billati hiya ahsan).



Bandul Keindonesiaan


Dalam pada itu, jika membincangkan kondisi mutakhir Indonesia, saya membayangkan di sana terdapat sebuah bandul. Bandul tersebut memiliki dua sudut atau kutub. Kutub sebelah kanan adalah agama dan kutub sebelah kiri adalah paham kebangsaan. Posisi sekarang bandul kita ada di sebelah kanan persis. Dengan posisi bandul yang berada di sebelah kanan persis tersebut, pandangan-pandangan yang dihasilkan pun cenderung konservatif.


NU dari awal mula berdirinya selalu berusaha menjaga bandul itu berada persis di tengah-tengah. Tidak terlampau ekstrem kanan maupun terlampau ekstrem kiri. Tidak terlalu liberal-permisif dan juga tidak rigid-konservatif.


Walhasil, di sanalah NU berada. Di tengah arus konservatisme, NU tetap berkonsentrasi menjaga moderatisme dengan tetap mengarahkan bandul keindonesiaan ada di tengah-tengah kutub paham kebangsaan dan kutub agama. Wallahu a’lam. (*)



*Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama




Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore