
Valtteri Bottas mengaku depresi jadi rekan setim Lewis Hamilton di Mercedes. (@F1/X)
JawaPos.com - Pembalap asal Finlandia Valtteri Bottas mengungkap pengalaman sulit yang pernah dialaminya selama berkarier di ajang F1. Bottas mengaku sempat mengalami depresi hingga hampir memutuskan meninggalkan dunia balap akibat perannya sebagai wingman (pembalap pendukung) bagi rekan setimnya, Lewis Hamilton, saat membela Mercedes AMG Petronas.
Bottas memperkuat Mercedes selama lima musim dari 2017 hingga 2021, setelah didatangkan dari Williams. Pada musim debutnya bersama tim itu, Bottas tampil cukup impresif dengan finis di posisi ketiga klasemen, sedangkan Hamilton meraih gelar juara dunia keempatnya, mengungguli Sebastian Vettel dari Ferrari.
Memasuki musim 2018, Bottas mengaku sangat percaya diri dan merasa dirinya merupakan pembalap terbaik di grid. Bottas bahkan menargetkan gelar juara dunia. Namun, harapan itu perlahan memudar setelah gagal meraih satu pun kemenangan sepanjang musim.
Dilansir dari Daily Mail, kekecewaan Bottas semakin memuncak ketika ia beberapa kali diminta oleh tim untuk mengalah dan memberi jalan kepada Hamilton demi kepentingan strategi.
Salah satu momen paling diingatnya terjadi di Hungarian Grand Prix, ketika prinsipal tim Toto Wolff menyebut Bottas sebagai wingman yang sensasional setelah membantu menahan laju Ferrari demi kemenangan Hamilton.
Komentar itu diakui Bottas sempat melukai perasaannya, meski kemudian Wolff memberikan klarifikasi bahwa tim tidak memihak salah satu pembalap. Di akhir musim, Hamilton kembali meraih gelar juara dunia kelimanya, sedangkan Bottas hanya mampu finis di posisi kelima.
Dalam tulisannya di The Players’ Tribune, Bottas mengungkapkan konflik batin yang ia rasakan saat itu. Bottas mengaku sebenarnya ingin menolak instruksi tim, tetapi memilih tetap patuh demi menjadi rekan setim yang baik. “Dia adalah juara. Saya hanya wingman,” tulis Bottas.
Bottas juga menegaskan tidak memiliki masalah pribadi dengan Hamilton maupun tim Mercedes.
Namun, situasi itu membuatnya mengalami tekanan mental yang berat. Bottas mengaku mulai terjebak dalam pikiran negatif, termasuk terlalu sering membaca komentar di media sosial yang membuatnya semakin meragukan diri sendiri. Bottas bahkan mengaku depresi dan kelelahan mental hingga sempat membenci balapan.
Pada jeda musim dingin menjelang 2019, Bottas bahkan sempat mempertimbangkan untuk tidak kembali ke lintasan. Namun, waktu yang Bottas habiskan di Finlandia membantu mengubah pola pikirnya menjadi lebih positif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UEFA Nations League: Siapa Paling Kuat?

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022