
Legenda NBA Dennis Rodman. (Istimewa)
JawaPos.com-Banyak orang akan menilai, Jordan adalah pemain terhebat di era 80 hingga 90-an. Bukan tanpa sebab, Jordan kerap menampilkan permainan energik dan tembakan yang mematikan.
Setelah era Jordan, lahirlah era Kobe dengan Lakers dan Lebron dengan Cavs yang kini bermain untuk Lakers. Ketiga pemain tersebut menjadi pemain yang banyak diidolakan penggemar basket. Kesamaan antara ketiganya terletak pada kemampuan mereka dalam mencetak angka.
Meski begitu, terdapat satu pemain yang tidak hebat dalam mencetak angka namun tetap bisa menjadi legenda NBA. Dia adalah Dennis Rodman.
Rodman bukan pencetak angka yang hebat, namun Rodman memiliki kemampuan bertahan dan rebound yang begitu istimewa. Selama berkarir, Rodman mencetak 6,683 poin dengan rataan 7.3 poin per game. Angka tersebut tidak begitu istimewa.
Tetapi Rodman tetaplah istimewa. Eks pemain Pistons dan Bulls tersebut berhasil menorehkan 11.954 rebound selama berkarir dengan rataan 13,1 rebound per game. Perlu diingat, NBA era 80-an didominasi pemain center dan power forward yang begitu dominan.
Di era itu, Rodman yang tingginya hanya 6 ft 7 atau 201 sentimeter, tidak berbeda jauh dengan Jordan yang memiliki tinggi 6 ft 6 atau 198 sentimeter, harus berhadapan dengan pemain besar seperti Karl Malone, Patrick Ewing, David Robinson, hingga Charles Barkley.
Rodman seperti sebuah Mustang, bermesin besar dengan karakter yang berbeda. Pria kelahiran New Jersey tersebut juga dikenal dengan kepribadiannya yang liar. Karena karakternya, tidak banyak yang menginginkan kehadiran Rodman di tim mereka sebab berpotensi merusak chemistry tim.
Namun Jordan melihat Rodman dari sudut lain. Jordan melihat kemampuan rebound Rodman seperti anugrah dan kemampuan istimewa yang tidak dimiliki pemain lain. Rekan tim Jordan, Scottie Pippen bahkan menentang Jordan untuk merekrut Rodman ke Chicago Bulls. Namun Jordan yakin bahwa Rodman dapat membantu tim menjuarai liga.
Di Chicago Bulls, Rodman mengerjakan hal kotor untuk tim. Selain rebound, dia menjadi pemain yang merusak konsentrasi lawan dengan permainan kerasnya dan gayanya dalam bertahan.
Pemain sedominan Shaquille O'Neal bahkan sempat tidak bisa mencetak angka ketika dijaga Rodman. Shaq pernah menjadi momok mengerikan bagi Jordan ketika dia bersama Orlando Magic berhasil memulangkan Jordan pada 1995.
Kehadiran Rodman memberi dampak positif untuk tim. Pepatah kesempatan tidak datang dua kali seakan terpatahkan ketika Rodman berada di lapangan. Rodman bersama Jordan dan Pippen berhasil menjuarai tiga gelar juara NBA atau disebut three peat yang bahkan Lebron pun belum pernah mencapainya.
Setelah pensiun, Rodman juga tercantum dalam 75 pemain NBA terbaik sepanjang masa, sekaligus membuktikan bahwa tidak harus mencetak banyak untuk menjadi yang terbaik.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
