
Ken Shamrock berhasil pertahankan gelar juara UFC Superfight Championship di UFC 7. (Instagram/@kenshamrockofficial)
JawaPos.com — Dunia mixed martial arts (MMA) kini mungkin lebih teratur, penuh dengan aturan ketat, serta dilengkapi dengan sistem juri yang memadai.
Namun, 29 tahun yang lalu, tepatnya pada 8 September 1995, UFC masih berada di era yang brutal dan tanpa aturan yang jelas seperti sekarang. Pertarungan yang berlangsung hingga 33 menit, dengan adanya perpanjangan waktu seperti di sepak bola, menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah olahraga ini.
Kenangan itu datang dari UFC 7, yang digelar di New York dan menjadi saksi bisu salah satu duel terpanjang yang pernah ada.
Pada masa awal kemunculannya, UFC benar-benar merupakan arena pertempuran yang menyeramkan. Setiap pertarungan mengadu petarung dengan disiplin ilmu bela diri yang berbeda-beda.
Bayangkan, seorang karateka bisa saja bertemu dengan seorang petinju di dalam oktagon, atau bahkan seorang pegulat dipertemukan dengan master taekwondo.
Tak ada batasan disiplin, tak ada pembagian kelas berat, dan yang pasti, tak ada ronde yang membatasi pertarungan. Durasi pertarungan terus berlanjut hingga ada pemenang yang jelas melalui KO, tapout, atau permintaan corner untuk menghentikan pertandingan.
Seperti layaknya sebuah turnamen gladiator, petarung di masa itu bahkan harus siap bertanding lebih dari sekali dalam satu malam. Semua laga harus selesai di hari yang sama, dan kemenangan berarti maju ke babak berikutnya hingga pemenang turnamen ditemukan.
UFC pada masa itu benar-benar berbeda dengan yang kita kenal sekarang, dan bisa dibilang lebih dekat dengan konsep pertarungan bebas yang liar.
UFC 7 menjadi salah satu perhelatan yang penuh dengan aturan 'purba'. Tak ada pembagian kelas berat, tak ada juri yang menghitung angka, dan setiap pertarungan berlangsung tanpa adanya ronde.
Salah satu sorotan terbesar dari UFC 7 adalah pertarungan antara Ken Shamrock dan Oleg Taktarov. Shamrock, yang pada saat itu merupakan pemegang sabuk juara UFC Superfight Championship, harus berhadapan dengan Taktarov, juara turnamen UFC 6.
Meski mereka berdua berteman baik dan berasal dari sasana yang sama, pertarungan ini tetap berlangsung dengan intensitas tinggi. Shamrock dan Taktarov memiliki tujuan yang jelas: untuk menang.
Namun, keduanya juga tak ingin melukai lawannya secara berlebihan. Ini mungkin terdengar kontras dengan citra brutal UFC di masa itu, tetapi strategi bertarung Shamrock dan Taktarov tetap penuh perhitungan.
Shamrock, misalnya, mencoba menyerang Taktarov dengan brutal untuk membuatnya cepat berdarah. Strategi ini sebenarnya cukup cerdas, mengingat jika Taktarov mengalami luka parah dan berdarah banyak, kemungkinan besar corner Taktarov akan menyerah, dan wasit pun bisa menghentikan pertarungan. Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya.
Pertarungan antara Shamrock dan Taktarov berlangsung seperti tanpa akhir. Mereka berdua bertarung selama 30 menit penuh tanpa ada yang berhasil memukul KO lawannya, tanpa ada tapout, dan tentu saja, tanpa adanya permintaan dari corner untuk menghentikan laga.
Pada masa itu, batas waktu untuk Superfight ditetapkan 30 menit, dan jika tak ada pemenang dalam waktu tersebut, maka perpanjangan waktu maksimal 5 menit akan diberikan. Mirip seperti peraturan dalam sepak bola.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
