Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Maret 2022 | 04.35 WIB

Alasan Teknis, Mengapa Bagas/Fikri Lolos Final, Kalahkan Marcus/Kevin

Photo - Image

Photo

JawaPos.com-Perburuan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo untuk meraih gelar ketiga pada ajang All England dipastikan tertunda. Pada semifinal di Ulitita Arena Birmingham hari ini (19/3), ganda putra nomor satu dunia itu kandas.

Marcus/Kevin dikalahkan junior mereka, ganda putra nomor 28 dunia Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri. Marcus/Kevin tumbang dalam rubber game dengan skor 20-22, 21-13, dan 16-21. Pertandingan tersebut selesai dalam tempo 58 menit.

"Mereka lebih bagus, sedangkan kami melakukan banyak kesalahan. Jadi selamat kepada mereka," kata Marcus dalam wawancara di mixed zone bersama BWF.

"Saya sendiri memang ingin menghadapi mereka di semifinal. Sebab itu akan memastikan satu ganda Indonesia di final. Mereka satu tim dengan kami, mereka sudah tahu kami, dan mereka bermain nothing to lose. Dalam pertandingan ini, kami juga terus berada dalam tekanan," timpal Kevin.

Salah satu alasan teknis mengapa Marcus/Kevin sering tertekan dan kalah dalam laga ini adalah adalah kondisi court 1 yang berangin cukup kencang.

Menurut Marcus, angin dari court 1 membuat shuttlecock sedikit mengalami pergerakan saat masih berada di atas. Marcus, menambahkan, dia butuh usaha lebih keras dari biasanya untuk memukul shuttlecock agar bisa melaju dengan kencang.

Jika Marcus sebagai eksekutor di belakang cukup kesulitan untuk menghajar shuttlecock dengan maksimal, maka Bagas mengalami kondisi sebaliknya.

Bagas adalah salah satu pemain dengan power terbesar di Pelatnas PP PBSI. Bagas lebih muda dan punya fisik lebih besar ketimbang Marcus (182 cm dibanding 168 cm). Artinya, saat ini, Bagas memiliki kekuatan dan daya ledak lebih besar dalam melakukan smes dari garis belakang.

Dalam wawancara dengan JawaPos.com, September 2020, pelatih ganda putra Indonesia Herry IP mengatakan bahwa dia menaruh harapan besar kepada Bagas.

"Dari anatomi tubuhnya, tenaganya, powernya, semua sudah memenuhi persyaratan," ujar Herry IP.

Di pelatnas saat ini, kata Herry IP, Bagas dan Daniel Marthin adalah "penggebuk" dengan potensi paling menjanjikan.

Dan dalam pertandingan ini, Bagas mampu memanfaatkan situasi court 1 dengan sangat baik. Apalagi, Fikri juga bermain sangat solid hari ini.

Bertugas sebagai pengatur permainan di depan, Fikri bermain agresif. Dia punya mindset untuk terus menekan serta mampu membaca permainan Marcus/Kevin dengan sangat-sangat baik.

"Kami senang, bahagia, rasanya tidak menyangka, terkejut. Itu sih," kata Bagas setelah pertandingan.

"Pada awalnya, kami bermain cukup baik. Namun pada game kedua, kami kehilangan fokus. Setelah itu, kami bangkit di game ketiga dan terus berusaha bertarung sampai akhir," imbuh Fikri.

Fikri menambahkan, bermain melawan Marcus/Kevin yang berada dalam satu tim di pelatnas, rasanya memang seperti latihan. Kedua pasangan itu sudah sama-sama paham kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, Bagas/Fikri berusaha bermain untuk dengan lepas dan menikmati pertandingan.

Karena sudah sering bertemu, Bagas/Fikri menjadi tidak panik ketika berada dalam situasi penuh tekanan. Misalnya momen di game pertama. Yakni saat mereka sudah unggul 17-10, tetapi tiba-tiba ditikung oleh Marcus/Kevin hingga menjadi tertinggal dengan skor 17-19.

Dalam posisi kritis, Bagas/Fikri menemukan kembali momentum yang hilang dan akhirnya menang 22-20 pada game pembuka.

"Saya masih merasa seperti mimpi. Bila ini mimpi saya tidak mau terbangun. Kami menjalani hari-hari sulit di tahun lalu, tahun ini kami mau bangkit. Semoga ini jadi awal yang baik buat kami," kata Fikri dikutip dari siaran pers PP PBSI.

"Tidak menyangka bisa masuk final All England pertama kali. Tapi kami tidak mau terlalu senang dulu karena tugas belum selesai, masih ada final besok," imbuh Bagas.

Pada final besok, Bagas/Fikri akan kembali berhadapan melawan lawan tangguh. Yakni pemenang antara ganda nomor dua dunia Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan ganda Tiongkok He Jiting/Tang Qiang.

Jika melihat perjalanan di All England 2022, harusnya Bagas/Fikri tidak gentar, siapapun lawannya. Pada babak kedua, mereka mengalahkan unggulan delapan dan peraih perunggu Kejuaraan Dunia 2021 Ong Yew Sin/Teo Ee Yi (Malaysia).

Lalu di perempat final, Bagas/Fikri secara gemilang mengandaskan unggulan ketiga dan juara dunia 2021 asal Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Pada perempat final itu, ketangguhan mental Bagas/Fikri benar-benar terlihat.

Pada game penentuan, mereka sudah tertinggal 17-20 atas Hoki/Kobayashi. Namun, Bagas/Fikri bangkit secara luar biasa, mencetak lima angka beruntun, dan menutup pertandingan dengan kemenangan epik 22-20.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore