
Irine Maharani
JawaPos.com-Irine Maharani berhasil melalui masa-masa terberatnya. Dia menjadikan lari sebagai terapi setelah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sampai saat ini, Irine tidak hanya lari untuk diri sendiri. Dia juga rajin mengikuti charity run untuk membantu sesama.
Dalam ceritanya, Irine menuturkan bahwa sebagian besar orang yang mengalami KDRT tidak hanya menderita kekerasan fisik, tetapi juga mental. Pada pertengahan 2012, dia sedang menjalani proses perceraian.
Secara psikologis, Irine mengalami trauma. Dia juga berjuang untuk memperoleh hak asuh dua anaknya.
Pada masa-masa berat itu, adik Irine mengajak olahraga agar meringankan beban pikiran. ’’Saya akan makin rajin lari kalau besoknya mau ke pengadilan. Sambil lari, saya ngomong ke diri sendiri kalau saya itu kuat dan tegar,’’ ungkapnya.
Semakin rajin latihan, Irine mulai mengikuti berbagai fun race. Dimulai dari 5K, 10K, sampai 21K. Dia juga masuk komunitas Indorunners, yaitu Jakbrunners.
Pada 2013, Irine nekat ikut NusantaRun. Saat itu dia melihat status Twitter temannya. Event tersebut membutuhkan 50 pelari untuk amal. Mereka harus berlari dari Jakarta ke Bogor sejauh 55 km sambil mencari donasi. Padahal, saat itu Irine paling jauh lari hanya 21 km.
Dalam pikirannya, Irine hanya ingin tahu bagaimana membantu orang yang kesusahan. ’’Padahal, saat itu kondisi mental saya juga hancur. Merasa tidak berguna. Saya tidak bisa merasakan apa pun. Nggak tahu bahagia itu seperti apa,’’ kata perempuan yang lusa (17/6) genap berusia 39 tahun itu.
Prosesnya pun tidak mudah. Dia menerima banyak sindiran dan keraguan dari orang-orang sekitar. Irine tidak menyerah dan tetap berusaha mengumpulkan donasi dari teman-temannya.
’’Tapi, akhirnya yang menasihati saya malah jadi pendonor saya tiap tahun,’’ ujar Irine, lantas tersenyum.
Dengan target Rp 50 juta, Irine berhasil mengumpulkan donasi Rp 155 juta. Tentu hal itu membuatnya senang, takjub, sekaligus haru. Meski saat hari H acara, Irine hanya mampu menyelesaikan 35 km dari jarak 55 km.
Dengan segala proses itu, Irine berjanji tidak hanya lari untuk diri sendiri. Dia juga akan melakukannya agar bisa membantu orang lain. Karena itu, dia berpartisipasi dalam NusantaRun setiap tahun.
Yang terbaru, Irine menyelesaikan NusantaRun Chapter 7 dari Gunungkidul, Jogjakarta, menuju Ponorogo, Jawa Timur, sejauh 133 km. Irine berhasil finis dalam waktu 17 jam 38 menit.
’’Dampak dari emotional abuse itu membuat orang jadi nggak percaya diri. Setelah mengikuti NusantaRun yang pertama, itu yang membuat saya bangkit lagi. Mengembalikan saya menjadi manusia yang seutuhnya,’’ kata alumnus Universitas Indonesia tersebut.
Kini, Irine dan lari tak terpisahkan. Hal itu membuatnya sehat lahir dan batin. Meski tanpa race, Irine tetap rutin berlatih setiap hari. Sejak 2012 itu, Irine menyelesaikan delapan race full marathon.
’’Kalau untuk race, saya ingin bisa break personal best setiap kategori. Saya percaya, kalau semua dilakukan dengan hati, konsisten, dan disiplin, hasilnya sangat memuaskan,’’ jelasnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
