Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 April 2020 | 22.35 WIB

Pada Usia Hampir 60 Tahun, Bisa Selesaikan Dua Full Marathon

Photo - Image

Photo

JawaPos.com-Tak diperlukan strategi aneh-aneh bagi Sonny Tandika untuk tekun di dunia lari. Di usia menjelang kepala enam, Sonny sudah menyelesaikan dua FM. Sejak mengawali kebiasaan lari lima tahun lalu, kuncinya cukup konsistensi.

-----

’’Lari itu simpel. Tak seberat olahraga lain,’’ ucap Sonny Tandika. Pria kelahiran 1960 itu memang mengaku bahwa usia hanya angka. Tapi, bukan berarti bisa bebas ini itu. Kesehatan selalu nomor satu. Pertambahan usia juga yang membuat Sonny pindah haluan dari main bulu tangkis menjadi pegiat lari.

Lebih ramah bagi kaki, selain bisa dilakukan di mana saja. Tinggal pilih ruang terbuka atau jogging track tertentu agar tak bosan. ’’Kalau saya, lari wajib di ruang terbuka,’’ jelasnya. Sebab, tak hanya melatih tubuh, tapi juga mencari sirkulasi udara yang menyegarkan.

Sebelum pandemi, pria yang berdomisili di Denpasar itu selalu lari dua hari sekali. Jaraknya sama, selalu 10K. Hanya rutenya yang ganti-ganti supaya tak bosan. ’’Selain itu, gabung komunitas penting buat saya. Bikin semangat terus,’’ kata anggota komunitas Run On tersebut.

Jangan salah, konsistensinya berlari 10K itu berhasil mengantarkan Sonny untuk menyelesaikan beberapa race. Termasuk melepas status virgin marathon di Maybank Bali Marathon 2018. ’’Nggak ada berapa bulan persiapan bla-bla. Ya, konsisten 10K itu saja,’’ ucapnya, kemudian tersenyum.

Race tersebut begitu berkesan dan menantang bagi Sonny. Jarak 42,195 km memang tak main-main. Sonny mengaku menjalaninya dengan santai. ’’Tapi, dengan usia segitu, saya juga ingat harus hati-hati,’’ kenangnya.

Momen memorable terjadi saat Sonny mengalami kram di Km 13. Kaki langsung terasa berat untuk melangkah. ’’Tapi, saya gigih. Harus bisa. Harus bisa,’’ tuturnya.

Kram tak membuatnya berhenti. Sonny lanjut lari dengan bantuan penanganan spray kaki. Kalau sudah tak tahan sakit, Sonny akan memilih jalan kaki hingga rasa nyerinya berkurang. Baru kemudian lari lagi. ’’Sakit lagi, ya jalan lagi,’’ sambungnya.

Dia juga diberi garam himalaya oleh beberapa kawan. ’’Katanya bisa menghilangkan kram. Ternyata nggak. Cuma berkurang sakitnya,’’ ujarnya, kemudian tertawa. Tapi, hal itu tak bikin Sonny kapok. Lari tetap menjadi favoritnya karena santai, menyenangkan, murah, dan tak membosankan.

’’Apalagi, dengan kesibukan pekerjaan, atur waktunya tidak susah,’’ ucap pria yang bekerja di bidang distributor sembako tersebut. Sonny tak punya trik cross training lain. Hanya sesekali bersepeda dengan kedua anaknya sebagai hobi.

Memang, kebiasaan larinya kali ini berubah drastis. Sejak pengurangan kegiatan fisik di Denpasar, Sonny memilih berlatih sendiri di rumah. Setiap hari Sonny meluangkan waktu 30 menit untuk berlari di rooftop. ’’Untung ada ruangan terbuka di lantai 3, jadi muterin sampai sekitar 3 km lah,’’ ucapnya.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore