
Photo
JawaPos.com-Kekalahan pertama memang terlalu menyiksa bagi Deontay Wilder. Sejak TKO pada ronde ketujuh di tangan Tyson Fury Minggu (23/2) WIB, Wilder terus menyalahkan banyak pihak. Termasuk faktor nonteknis yang tak ada hubungannya dengan pertarungan.
---
Ucapan Deontay Wilder yang menyebut dirinya seorang pejuang sejati sebaiknya direvisi. Setelah kehilangan sabuk juara dunia kelas berat WBC yang dia kuasai lima tahun terakhir, Wilder terus menyalahkan banyak pihak. Yang paling baru adalah kostum. Iya kostum.
Petinju asal Tuscaloosa, Amerika Serikat (AS), tersebut beralasan, pakaian ala karnaval yang dia kenakan saat masuk arena laga terlalu berat. Saat itu Wilder memang memakai kostum istimewa. Baju zirah hitam dengan bobot nyaris 19 kg. Kostum tersebut dia kenakan untuk memperingati Black History Month yang sedang diperingati di AS saat ini.
Wilder mengaku tidak menyangka kostum tersebut seberat itu. Dia mengaku baru mengetahui dan menjajal pakaian tersebut sekali, sehari sebelum pertarungan berlangsung.
”Kalian harus tahu, dia (Fury) tidak menyakitiku. Tapi faktanya, kostum yang kukenakan terlalu berat. Kakiku sudah lelah sejak awal pertarungan,” dalih petinju 34 tahun itu sebagaimana dilansir Yahoo Sports.
Wilder menambahkan, di ronde ketiga kakinya makin kelelahan. Tapi, dia terus berusaha untuk menahannya. ”Itu karena aku adalah pejuang sejati. Semua orang tahu akan itu,” tambahnya.
Menanggapi ucapan Wilder, Melissa Anglesea, desainer kostum Fury, angkat bicara. Dia menyerang balik ucapan tersebut dengan mengatakan bahwa alasan itu mengada-ada.
Menurut Anglesea, tidak ada hubungannya antara performa seorang petinju yang memiliki kondisi fisik sangat fit seperti Wilder dan kostum yang dia kenakan.
”Mari kita jujur, untuk seorang pria setinggi 6,7 kaki (201 cm) seperti Wilder, kostum seberat 3 stone (19 kg) itu tidak berarti apa-apa,” ucapnya seperti dilansir BBC Radio 5.
Anglesea mengaku pernah ikut merancang kostum petinju kelas berat lain, yakni Dillian Whyte, pada 2018. Dia mengungkapkan, saat itu kostum tersebut jauh lebih berat karena ada 30.000 kristal yang tersemat. ”Tapi, dia (Whyte) masih bisa menang KO atas Dereck Chisora,” ucapnya.
Sebelum menyalahkan kostum, Wilder sudah lebih dulu membuat alasan lain terkait kekalahan pertamanya sepanjang karir itu. Dia mengaku sebenarnya masih kuat bertarung.
Tapi, asisten pelatihnya, Mark Breland, terlalu terburu-buru melempar handuk tanda menyerah di ronde ketujuh. Wilder bahkan tidak mau lagi mantan juara dunia dan peraih emas Olimpiade 1984 kelas welter tersebut ada dalam tim pelatihnya alias memecatnya.
Aksi lempar handuk Breland itu memang sempat jadi perbincangan panas. Sebab, pelatih utama Wilder, Jay Deas, menyatakan bahwa Breland tidak meminta izin kepadanya sebelum melempar handuk. Wilder mengaku sakit hati dengan aksi Breland tersebut.
Tapi, tidak sedikit pula yang menilai keputusan Breland sudah tepat. Sebab, Wilder saat itu memang sudah tidak mampu melawan Fury. Darah dari telinga kirinya juga terus mengucur.
”Tapi, ini adalah hidup dan karirku. Aku tahu dia memikirkan keselamatanku. Tapi, dia harus tahu cara melakukannya dengan benar,” cetus Wilder sebagaimana dilansir The Independent.
Belakangan keputusan Breland mendapatkan konfirmasinya. Komisi Atlet Nevada kemarin mengeluarkan larangan berlatih dan bertarung selama enam pekan untuk memulihkan luka yang dideritanya.
”Wilder dilarang berlatih sampai 8 April. Dia juga dilarang bertanding sampai 23 April,” tulis Komisi Atlet Nevada.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
