Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 Januari 2020 | 22.52 WIB

Legenda Denmark: Praveen Jordan Pemain Luar Biasa, Tapi Tak Konsisten

Photo - Image

Photo

JawaPos.com-Dalam dua turnamen pembuka 2020, ganda campuran nomor satu Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti mencatat hasil yang buruk dan mengecewakan.

Pada Malaysia Masters pekan lalu, pasangan nomor lima dunia itu sudah keok pada babak pertama. Mereka dikalahkan pemain Malaysia yang merangkak sejak fase kualifikasi Man Wei Chong/Pearly Tan Koong Le dalam dua game langsung, 18-21, 13-21.

Padahal, Wei Chong/Tan Koong Le hanya berada di ranking 75 dunia! Usia mereka juga masih 20 dan 19 tahun.

Sementara itu, di kandang sendiri, pada turnamen Indonesia Masters 2020, Praveen/Melati juga kandas dari pasangan nonunggulan. Ganda campuran nomor 21 dunia asal Prancis Thom Gicquel/Delphine Delrue menghentikan langkah Praveen/Melati pada babak perempat final hari ini (17/1), dalam tiga game 21-19, 14-21, dan 21-18.

Setelah pertandingan, Melati mengaku bahwa dia dan Praveen banyak melakukan kesalahan sendiri. Dalam poin-poin kritis terutama pada game ketiga, bola-bola yang seharusnya mudah, ternyata gagal dieksekusi dengan baik. ''Mereka main nggak ada beban,'' timpal Praveen dalam siaran pers PP PBSI.

Memang, terlihat dalam pertandingan hari ini, Praveen sering sekali membikin kesalahan sendiri pada saat-saat genting. Inilah yang membuat mereka gagal meraih momentum kemenangan. Walapun, di atas kertas, peluang untuk mengalahkan Gicquel/Delrue sangat besar.

Legenda ganda campuran Denmark Joachim Fischer Nielsen sejatinya menilai tinggi kualitas Praveen. Di tengah dominasi dua ganda Tiongkok Zheng Siwei/Huang Yaqiong (nomor satu dunia) dan Wang Yilyu/Huang Dongping (ranking dua dunia), Praveen bisa tampil sebagai salah satu pesaing terberat.

Buktinya, Praveen/Melati bisa menjadi juara di Denmark dan Prancis Open 2019. Dalam perjalanan menjuarai dua turnamen elite Super 750 itu, Praveen/Melati sukses memukul dua ganda campuran Tiongkok itu. Detailnya, dua kali membekap Siwei/Yaqiong. Serta sekali mengalahkan Yilyu/Dongping.

''Jordan adalah pemain old school, dia belajar banyak dari generasi yang lebih tua,'' ucap Nielsen dalam wawancara dengan Dev Sukumar dari BWF.

Old school di sini adalah Praveen dan Melati tidak melulu bermain dengan kecepatan. Namun, mengandalkan taktik, siasat, dan penempatan bola.

Nielsen adalah peraih perunggu Olimpiade London 2012, berpasangan dengan Christinna Pedersen. Dia juga dua kali menempati peringkat ketiga Kejuaraan Dunia pada 2009 dan 2014.

''Saya kira, dia adalah pemain yang luar biasa. Akan asyik sekali jika memiliki pemain sekaliber dia di Inggris,'' kata mantan pemain berusia 41 tahun yang sekarang menjadi pelatih tim nasional Inggris tersebut.

Nielsen menegaskan bahwa Praveen adalah pemain hebat. Walaupun memang tidak konsisten. Kadang bisa berada di level teratas, kadang merosot jauh ke bawah.

''Dia pemain dahsyat. Dia pernah mencapai hal yang gila dan tinggi sekali pada sebuah turnamen. Namun kadang pada turnamen lain, kamu akan berpikir, 'Kok bisa dia (bermain) serendah itu'. Namun, mungkin itu adalah gayanya,'' ucap Nielsen.

Praveen sendiri mengaku akan mengambil pelajaran penting dari hasil di Indonesia Masters dan Malaysia Masters. Fokusnya saat ini adalah berprestasi tinggi di All England dan Olimpiade Tokyo 2020.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore