Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Januari 2020 | 16.16 WIB

Gambaran Persaingan Liga Basket Profesional Tertinggi, IBL 2020

Pemain Stapac Jakarta Abraham Damar Grahita (kiri) dan  pemain Satria Muda Pertamina Hardianus dalam game 2 Final IBL di GOR C-Tra Arena, Bandung, Sabtu (23/3). FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS - Image

Pemain Stapac Jakarta Abraham Damar Grahita (kiri) dan pemain Satria Muda Pertamina Hardianus dalam game 2 Final IBL di GOR C-Tra Arena, Bandung, Sabtu (23/3). FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS

JawaPos.com-Bergabungnya timnas basket Indonesia ke IBL 2020 membuat persaingan musim ini berubah total. Tim-tim tradisional, yang biasanya kuat karena punya sederet pemain top, tidak bisa lagi dengan mudah mendominasi liga. Bakal lebih terbuka, lebih seru. Setidaknya, itu harapan kita semua.

AGUSTUS lalu, penggemar basket tanah air mendapat kabar buruk. Stapac Jakarta, salah satu tim legendaris Indonesia, mundur dari IBL. Tim milik Irawan Haryono tersebut absen dari kompetisi musim 2020 karena tidak punya pemain. Banyak pemain andalannya yang diambil timnas. Padahal, Stapac berstatus juara bertahan.

Untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Stapac, timnas basket Indonesia akhirnya terjun ke persaingan. Menggunakan nama Indonesia Patriots. Tidak sekadar meramaikan. Ikut liga itu juga menjadi salah satu persiapan menuju kualifikasi Piala Asia FIBA 2021. Namun, agar fair, mereka hanya bermain di babak reguler. Tidak bisa ikut playoff, apalagi juara.

Namun, itu saja sudah bikin tim-tim lain resah. Termasuk finalis musim lalu, Satria Muda. Memang benar, tim ini langganan juara. Atau paling tidak runner-up. Masalahnya, mereka kehilangan empat pemain yang kini memperkuat Patriots. Yakni, Arki Dikania Wisnu, Hardianus Lakudu, Laurentinus Steven Oei, dan Kevin Yonas.

Tanpa mereka, Satria Muda pesimistis bisa menampilkan permainan terbaik. Yang paling terasa adalah kehilangan Arki. Hal tersebut diakui pelatih SM Milos Pejic. Menurut dia, Arki adalah sosok pemimpin dalam tim yang membuat permainan timnya lebih terarah. Namun di sisi lain, Arki dibutuhkan Patriots untuk memenuhi target mereka.

”Dia adalah (Arki) leader sejati. Baik di bus, asrama, maupun lapangan,” puji Pejic ketika ditemui kemarin. ”Kami memang butuh new leader untuk menggantikannya. Saya sudah punya ide itu. Tetapi, kami butuh waktu untuk membentuknya,” lanjut dia.

Kehilangan empat pilar, Satria Muda mengandalkan pemain-pemain muda untuk mengisi kekosongan itu. Pejic percaya diri mereka bisa tampil baik. Meskipun harus bekerja ekstrakeras.

”Kami membangun tim baru untuk musim ini,” jelas Pejic. ”Kami ingin memulai dengan target secara step-by-step. Pertama, menyiapkan fisik dan taktik. Kami memulai lebih rendah dari musim lalu. Tetapi untuk di akhir nanti, kami akan berada di puncak. Lihat saja,” yakin pelatih asal Serbia tersebut.

Sementara itu, pelatih Pelita Jaya (PJ) Octaviarro Romely Tamtelahitu itu mengatakan, tanpa Stapac, persaingan musim ini tetap sengit. Kekuatan tim lebih merata. ”Musim ini banyak tim yang membangun kekuatannya. Bahkan menurut saya, tim yang sebelumnya tidak pernah ke final bisa saja masuk final musim ini,” kata pria yang akrab disapa Ocky itu.

Meski begitu, skuad Pelita cukup optimistis bisa merebut gelar. Sebab, hanya satu pemain mereka yang ”dibajak” timnas. Yakni, Andakara Prastawa. Bahkan, menurut center Adhi Pratama, musim ini teman-temannya lebih termotivasi.

”Tahun ini motivasi anak-anak gila sih. Terlihat dari Piala Presiden kemarin. Kami tanpa Prastawa dan Ragil (Pamungkas) bisa tiga besar,” ulas Adhi kemarin. ”Menurut saya, itu menunjukkan pencapaian yang bagus. Tapi, memang harus lebih dijaga karena di sini banyak pemain muda juga. Itu tugas kami,” lanjut Adhi.

Pada saat tim-tim besar lain harus rela melepas pemain ke timnas, tim lain lebih stabil karena materi pemain tidak berubah banyak. Misalnya, yang dialami Hangtuah. Dalam dua turnamen pramusim, mereka bisa masuk final, yaitu saat Piala Raja Jogjakarta dan Piala Presiden 2019.

”Ya, kami cukup bersyukur bisa memaksimalkan pemain. Dari empat bulan lalu skuad tetap sama. Hanya ada penambahan pemain, tanpa pengurangan. Ini jadi kelebihan kami dibanding tim lain yang harus adaptasi lagi,” beber pelatih Hangtuah Harry Prayogo. ”Turnamen pramusim memang menjadi gambaran peta persaingan musim ini. Dari situ kami banyak belajar,” imbuhnya.

Debutan Membahayakan

Tahun ini, IBL menyambut tim debutan asal Surabaya, Louvre. Meski baru pertama mengarungi dunia basket Indonesia, tim ini cukup ambisius dalam membangun tim. Ada mantan bintang Satria Muda dan Garuda Bandung Wendha Wijaya. Ada bekas pemain Pelita Jaya dan Garuda Daniel Wenas. Juga Galank Gunawan, peraih sederet gelar IBL bersama Satria Muda. Jangan lupakan mantan bintang CLS Knights Indonesia Dimaz Muharri.

Photo

Mantan bintang CLS Knights, Dimaz Muharri, kembali dari masa pensiun untuk membela Louvre Surabaya. (Angger Bondan/Jawa Pos).

Ada pemain naturalisasi yang memperkuat Indonesia di Asian Games 2018 Jamarr Andre Johnson. Dari jajaran pemain asing, terdapat mantan pemain Stapac Savon Goodman, Martavious Irving, serta Michael Kolawole. Lengkap bukan.

Penampilan selama turnamen pramusim memang belum meyakinkan. Louvre gagal lolos ke semifinal. Namun, waktu itu koleksi pemain asing mereka belum diturunkan. Ketika full team, seperti saat beruji coba melawan BBM Viking CLS Knights dan Pacific Caesar, Louvre langsung perkasa.

”Saya lihat visi dan misi Louvre bukan hanya ingin menjadi partisipan di IBL. Louvre sangat ingin berbicara banyak di kompetisi,” kata Wendha. Meski begitu, manajemen tidak ingin langsung pasang target yang terkesan pongah. Tim berlogo buaya tersebut ingin menembus playoff.

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore