
Pecco Bagnaia finis paling buncit di Sprint MotoGP Mandalika 2025. (Instagram @pecco63)
JawaPos.com — Ducati GP25 mendadak ngambek di Sirkuit Mandalika. Pecco Bagnaia yang baru sepekan lalu tampil superior di Jepang kini hanya bisa gigit jari di Sprint MotoGP Indonesia 2025.
Juara dunia bertahan itu tampil bak penumpang di atas motor Desmosedici terbarunya. Bukannya mengendalikan, Bagnaia justru merasa motor yang membawanya melaju sendiri tanpa arah.
“Saya tidak mengendarai motor. Saya hanya penumpang di motor saya, saya tidak bisa mengendalikan apa pun,” kata Bagnaia kepada Crash.net usai balapan.
Kondisi ini benar-benar ironis jika mengingat apa yang terjadi seminggu sebelumnya di Motegi. Bagnaia saat itu menyapu bersih pole position, juara Sprint, dan kemenangan di balapan utama.
Namun di Mandalika semua berubah drastis. Ducati GP25 yang tadinya menjadi senjata pamungkas justru berubah menjadi mimpi buruk bagi pembalap asal Italia tersebut.
Bagnaia terseok-seok sejak awal Sprint dan tidak mampu menempel rombongan depan. Ia bahkan finis paling buncit dengan selisih 29,3 detik dari Marco Bezzecchi yang keluar sebagai pemenang.
Masalah besar yang dirasakan Bagnaia adalah getaran hebat pada motornya. Shaking itu membuatnya kesulitan mengerem, menjaga jalur, dan bahkan harus menutup gas di beberapa tikungan.
“Empat kali saya tiba di tikungan tanpa rem. Tiga kali saya harus menutup gas karena motor goyang hebat, rasanya mustahil membalap seperti ini,” keluhnya.
Situasi ini semakin menyakitkan karena secara teori motor GP25 di Mandalika sama dengan yang dipakai di Jepang. Tidak ada perubahan setup besar yang dilakukan Ducati Lenovo Team.
Anehnya, masalah ini tidak hanya menimpa Bagnaia. Hampir seluruh pembalap Ducati mengeluh motor sulit dikendalikan di Mandalika, kecuali Fermin Aldeguer yang mampu bertarung di depan.
Hal ini membuat tim teknis Ducati benar-benar pusing. Apalagi musim lalu, motor mereka begitu dominan di Mandalika meski menggunakan ban yang sama dengan edisi tahun ini.
Menurut laporan The-Race, akar masalah berasal dari revisi mesin GP25. Perubahan pada crankshaft membuat karakter mesin berbeda, terutama pada respons motor ketika masuk tikungan.
Karakter baru itu membuat Ducati GP25 sulit beradaptasi dengan kondisi sirkuit Mandalika yang panas dan abrasif. Hasilnya, para pembalap harus berjuang ekstra hanya untuk bertahan.
Sayangnya, aturan homologasi mesin membuat Bagnaia tidak bisa beralih penuh ke GP24. Padahal ia sempat menjajal motor lama tersebut di Misano dan merasa lebih nyaman.
Situasi ini menambah ketegangan di internal Ducati. Isu pengujian GP24 oleh VR46 Racing bahkan menimbulkan gesekan dengan manajemen karena dianggap membuka detail teknis ke publik.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
