Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Agustus 2025 | 15.59 WIB

Drama Tenis Meja Berlanjut, PB PTMSI Minta Kejelasan Kemenpora dan NOC Indonesia

PB PTMSI minta kejelasan Kemenpora serta Komite Olimpiade Indonesia yang mengusulkan Indonesia Pingpong League masuk sebagai anggota ITTF. (Rizky Ahmad Fauzi/Jawa Pos) - Image

PB PTMSI minta kejelasan Kemenpora serta Komite Olimpiade Indonesia yang mengusulkan Indonesia Pingpong League masuk sebagai anggota ITTF. (Rizky Ahmad Fauzi/Jawa Pos)

JawaPos.com-Drama tenis meja memasuki babak baru. Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) yang dipimpin Peter Layardi Lay menanyakan maksud Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang mengusulkan Indonesia Pingpong League (IPL) masuk sebagai anggota ITTF selaku federasi internasional tenis meja.

Peter menuturkan, pihaknya melakukan rapat koordinasi nasional untuk menyikapi terkait hal yang menyangkut pada PB PTMSI.

"Salah satu hal yang membuat pengurus provinsi risau dengan diusulkannya IPL menjadi anggota ITTF," kata Peter Layardi Lay ketika diwawancarai di Jakarta, Kamis (31/7).

Selain itu, penyelenggaraan Seleknas Tenis Meja Piala Menpora 2025. Pihaknya ingin mendapat jawaban dari Kemenpora tujuan dari Seleknas yang diadakan.

"Kalau pelatnas kan ada tujuan. Kalau kami buat Pelatnas ada jangka panjang, menengah, dan pendek. Karena kan SEA Games 2025 ini suah dekat. Apakah pelatnas menuju SEA Games," ujar Peter Layardi Lay.

Peter merasa PB PTMSI yang dipimpinnya sesuai aturan dan sudah diuji di pengadilan. "Dan satu-satunya yang sah oleh Mahkamah Agung. Jadi kami mau dapat tanggapan dari Kemenpora dan NOC supaya kami tidak menimbulkan kisruh di Pengprov hingga atlet pun bingung," tandas Peter Layardi Lay.

Oleh sebab itu, pihaknya datang ke Kemenpora dan juga NOC Indonesia dengan membawa SK Kepengurusan dengan 38 Pengprov serta hampir 400 Kabupaten/Kota. Dia menegaskan, apa yang sudah dilakukan Kemenpora tidak benar dan menjurus ke blunder.

"Kalau misalnya begini. Pihak Kemenpora yang memelihara dualisme. Tidak menyelesaikan persoalan sama sekali. Jadi ini padangan pribadi ya, ini ingin hancurkan tenis meja dan PTMSI yang sudah ada puluhan tahun. Jadi harus berhati-hati dalam organisasi dan pemimpin di olahraga itu," tutur Peter Layardi Lay.

Sementara itu, Ketua KONI Pusat Marciano Norman menyatakan, permasalahan di organisasi harusnya bisa dicarikan permasalahannya di jalur terbuka di organisasi itu sendiri.

"Tapi kami harus punya tekad yang sama. Atlet tidak boleh jadi korban. Atlet berprestasi harus kita dorong dan hak mewakili Indonesia pada event-event yang besar," tegas Marciano Norman.

Marciano merasa audiensi dengan berbagi pihak bagus untuk penyelesaian masalah. "Karena kalau tidak ada komunikasi yang baik, akhirnya yang jadi korban atletnya. Kami ada untuk melayani atlet dan mengantar atlet menjadi juara," ucap Marciano Norman.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore