Imane Khelif dalam Olimpiade Paris 2024. (@imane_khelif_10/Instagram)
JawaPos.com - World Boxing resmi menetapkan kebijakan baru yang mewajibkan seluruh atlet tinju profesional menjalani tes jenis kelamin berbasis genetik agar dapat bertanding dalam ajang resmi.
Kebijakan ini mulai berlaku 1 Juli 2025 dan berdampak langsung terhadap petinju asal Aljazair, Imane Khelif, yang saat ini dilarang bertanding hingga ia menjalani pemeriksaan sesuai prosedur.
Keputusan tegas ini diumumkan menyusul kontroversi yang melibatkan Imane Khelif dan Lin Yu-ting dari Taiwan pada Olimpiade 2024 di Paris.
Keduanya sempat didiskualifikasi dari Kejuaraan Dunia 2023 oleh International Boxing Association (IBA) karena gagal memenuhi syarat kelayakan gender.
Namun, Imane dan Yu-ting tetap diizinkan bertanding di Olimpiade, bahkan berhasil meraih medali emas di kelas masing-masing yang memicu perdebatan luas mengenai keadilan dan regulasi gender dalam olahraga.
World Boxing melalui siaran persnya pada Jumat (30/5) menegaskan bahwa hanya atlet yang lulus tes genetik polymerase chain reaction (PCR) yang boleh ikut dalam kategori pria atau wanita di kompetisi internasional.
Aturan terbaru ini berlaku di semua ajang resmi yang berada di bawah naungan World Boxing, termasuk Eindhoven Box Cup yang akan digelar pada 5–10 Juni 2025 di Belanda. Imane Khelif dipastikan tidak dapat bertanding dalam ajang ini karena belum menjalani tes yang ditentukan.
Kebijakan ini sebenarnya menyasar seluruh atlet tinju profesional berusia di atas 18 tahun. Namun, perhatian utama publik saat ini tertuju pada Imane Khelif yang sebelumnya terlibat isu gender di ajang internasional.
Selain atlet, federasi nasional juga dibebankan tanggung jawab untuk memberikan sertifikasi resmi hasil tes PCR saat mendaftarkan atletnya ke kompetisi yang diadakan oleh World Boxing.
Ketidaksesuaian atau pemalsuan dokumen dapat berujung pada diskualifikasi atlet, bahkan sanksi terhadap federasi terkait.
Tes genetik sendiri berfungsi untuk mendeteksi gen SRY yang merupakan indikator keberadaan kromosom Y. Hasil tes akan menentukan apakah seorang atlet tergolong pria atau wanita secara biologis.
“Atlet yang diketahui laki-laki sejak lahir, ditunjukkan oleh keberadaan materi genetik kromosom Y (gen SRY), atau memiliki kondisi differences of sexual development (DSD) dengan maskulinisasi androgen, akan memenuhi syarat untuk bertanding di kategori pria,” tulis World Boxing.
Jika ditemukan keberadaan kromosom Y pada atlet yang mendaftar ke kategori wanita, kasus tersebut akan dirujuk ke spesialis medis untuk evaluasi lebih lanjut, termasuk pemeriksaan hormonal dan anatomi.
World Boxing menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keamanan fisik dan keadilan kompetisi, terutama dalam olahraga tinju yang bersifat kontak fisik langsung.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
