
Balerina asal Jakarta, Lindya Wijaya. (Istimewa)
JawaPos.com - Di luar sorotan kamera dan exposure media, mungkin sudah tidak terhitung jumlah anak bangsa yang sudah mengharumkan Indonesia. Mulai dari sektor sains, seni hingga olahraga, mereka semua layak dibanggakan dan pantas untuk mendapatkan apresiasi lebih.
Lindya Wijaya adalah salah satunya. Lahir di Jakarta pada 20 tahun silam, Lindya merupakan seorang penari balet profesional yang kini tengah meniti karirnya di luar negeri.
Lahir dari pasangan Eddy Widjaja dan Casandra Farrel, Lindya menemukan jati dirinya sebagai seorang balerina di usia 14 tahun. Dengan keberanian dan tekad bulat, dia memutuskan untuk meninggalkan sekolah reguler dan memfokuskan dirinya pada balet.
Balet di Indonesia sudah berkembang cukup pesat meskipun masih terbilang baru jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang sudah lama mengembangkan seni tari klasik ini. Namun, perkembangan balet Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan dan kendala, khususnya soal kurangnya fasilitas yang memadai, pembiayaan yang terbatas, dan minimnya apresiasi seni balet di Indonesia.
Sebagai pilihan karir yang sama sekali tidak populer, Lindya harus berjuang cukup keras. Bergabung dengan Marlupi Dance Academy di kawasan Jakarta Barat sejak 2021 lalu, ia harus menjalani jadwal ketat mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Perjalanannya makin berat kala pandemi Covid-19 datang yang kemudian berimbas pada tutupnya Marlupi Dance Academy. Keraguan mengenai jalur kariernya sebagai penari balet yang tidak cerah pun mendadak terlintas.
Beruntung, Lindya masih bisa menjaga pola pikir positifnya dengan terus berlatih tekun. Hal ini kemudian membuahkan hasil setelah ia mendapatkan tempat dalam program American Ballet Theatre dan Ellison Ballet Summer Intensive di New York, Amerika Serikat.
Lindya, yang kala itu masih berumur 16 tahun, pindah ke Manhattan, New York dengan beasiswa untuk belajar di Joffrey Ballet School di bawah bimbingan Era Jouravlev, meninggalkan keluarganya di Indonesia.
Penghargaan Internasional
Terbukanya jalur di seni atri balet tidak ia sia-siakan. Di Negeri Paman Sam, Lindya meraih penghargaan di berbagai kompetisi balet internasional. Ia melakukan perjalanan ke Vietnam, Korea, Taiwan, Paris, dan Hong Kong.
Adapun beberapa prestasi yang sudah ia rengkuh di antaranya adalah medali perunggu dalam Balet dan Kontemporer – Grand Prix Balet Dunia, Singapura, 2021; top 5 Divisi Senior – Youth America Grand Prix, Indonesia & Perwakilan Nasional YAGP Paris, 2020; dan finalis Grand Prix Taiwan, Taiwan, 2019.
Lindya juga merupakan Perwakilan Nasional – Kompetisi Balet IDO, Seoul, 2019. Ia juga medali emas pada Kompetisi Tari Internasional Hong Kong (HKCCDC), 2019, dan medali emas pada Festival Seni Asia Pasifik, Vietnam, 2019.
Pindah ke Inggris, Mengajar Tari di London
Pada tahun 2023, Lindya pindah ke Inggris untuk menjelajahi dunia tari di London. Di sana, ia menyeimbangkan hasratnya antara menari dan dunia akademisi dengan menjadi lulusan Administrasi Bisnis dari Universitas Hertfordshire. Lindya juga mengajar tari balet kepada anak-anak di studio lokal di Hertfordshire untuk menginspirasi generasi penari berikutnya.
Pada tahun 2024 sampai saat ini, Lindya telah bergabung dengan grup tari House of Jazz di bawah bimbingan Christie Lee Manning di London.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
