Eko Yuli Irawan saat berlaga pada kelas 67 kilogram di Riyadh, Arab Saudi kemarin.
JawaPos.com - Tradisi emas Olimpiade masih menjadi milik cabang olahraga (cabor) bulu tangkis. Nah, pada Olimpiade 2024 Paris, cabor lain diharapkan mulai merintis tradisi emas.
Kans itu diharapkan datang dari angkat besi, panjat tebing, dan panahan. Dan, kabar baik datang dari angkat besi seiring kesuksesan Eko Yuli Irawan meraih dua medali perak di Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2023.
Eko turun di kelas 67 kilogram putra di ajang yang berlangsung di Riyadh, Arab Saudi, pada Jumat (8/9) dini hari WIB.
Dua perak tersebut dipersembahkan Eko di dua kategori, yakni snatch dan total angkatan. Pada kategori snatch, juara dunia edisi 2018 itu mampu mengangkat beban seberat 146 kilogram. Angkatannya lebih baik daripada Sahakyan Gor (Armenia) dengan 142 kilogram dan hanya kalah oleh Chen Lijun (Tiongkok) yang berhasil di angka 153 kilogram.
Sementara pada angkatan clean and jerk, Eko hanya mampu mengangkat beban 175 kilogram. Angkatannya masih kalah oleh lifter Kolombia Mosquera Valencia (perak) dan lifter Korea Selatan Lee Sangyeon (perunggu) dengan 176 kilogram serta Lijun dengan 180 kilogram sehingga belum berhasil bawa medali tambahan.
Meski demikian, beban snatch 146 kilogram dan clean and jerk 175 kilogram sudah cukup bagi Eko meraih perak di kategori total angkatan. Peraih emas Asian Games 2018 itu ada di urutan kedua dengan total angkatan 321 kilogram. Terpaut 13 kilogram dari Lijun yang meraih emas.
Keberhasilan Eko meraih perak tersebut terbilang istimewa. Sebab, dia meraihnya di kelas 67 kilogram. Biasanya dia turun di kelas 61 kilogram. Eko pun mensyukuri hasil itu sekaligus menjadikannya sebagai modal untuk Asian Games 2022. ’’Alhamdulillah, hasilnya sesuai hasil latihan. Iya karena fokusnya nanti di Asian Games. Jadi, di sini buat penyesuaian dan pemantapan saja,’’ kata Eko kepada Jawa Pos kemarin (8/9).
Pada Asian Games 2022 di Hangzhou, Tiongkok, akhir bulan nanti, Eko memang disiapkan untuk turun di kelas 67 kilogram. Sementara itu, nomor andalannya, 61 kilogram, diberikan kepada Ricko Saputra.
’’Ini berusaha yang terbaik aja dan semoga masih bisa meningkatkan angkatan lagi di Asian Games. Kalau untuk emas atau tidaknya, saya belum bisa berkomentar,’’ ujar Eko ketika ditanya target di Asian Games 2022.
Eko menjelaskan, turun di kelas 67 kilogram hanya sementara. Setelah Asian Games, dia akan kembali ke 61 kilogram dan fokus menuju Olimpiade 2024 Paris.
Manajer Timnas Angkat Besi Indonesia Pura Darmawan menambahkan, keputusan tersebut diambil sebagai salah satu strategi PB PABSI dan pelatih menuju Olimpiade 2024 Paris.
Menurut dia, posisi Eko dalam kualifikasi kelas 61 kilogram sudah cukup aman karena ada di tiga besar. ’’Ini strategi. Kelas 67 kan enggak ada di Olimpiade. Jadi, dia bertanding hanya untuk memenuhi kewajiban ikut kejuaraan dunia,’’ beber Pura dihubungi terpisah.
Apakah pihaknya optimistis bisa pecah telur medali emas di Olimpiade? ’’Insya Allah, target kami itu. Karena kami juga ditargetkan oleh NOC dan pemerintah, minimal angkat besi satu emas. Insya Allah, pasti akan berusaha. Biar bisa bikin sejarah kan ya, selama ini perak dan perunggu,’’ sebutnya.
Dari cabor panahan, Ketua PP Perpani Arsjad Rasjid menyatakan, fokusnya saat ini adalah meloloskan sebanyak-banyaknya atlet ke Olimpiade. Saat ini, baru Arif Dwi Pangestu yang sudah memastikan diri lolos.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
