
Former Indonesian athlete Susi Susanti lights the cauldron during the opening ceremony of the 2018 Asian Games at the Gelora Bung Karno main stadium in Jakarta on August 18, 2018. (Photo by Jewel SAMAD / AFP)
JawaPos.com- Legenda bulu tangkis dunia Taufik Hidayat menggugat pelaksanaan Opening Ceremony Asian Games 2018. Taufik merasa dijegal secara politik, sehingga dia tak mendapatkan jatah sebagai pembawa obor pada pembukaan multievent terbesar di Asia tersebut.
“Pembawa obor itu Susy Susanti kan? Itu gue nggak punya jatah sama sekali loh. Karena dulu gue beda warna. Jadi segitunya olahraga dibawa ke politik. Kalau olahraga dibawa ke politik, ya nggak akan pernah maju,” kata Taufik dalam perbincangan di kanal Youtube Deddy Corbuzier (11/5).
“Dulu gue ada di baju warna sini, lalu yang mengurus Asian Games bajunya lain. Gue dua kali juara Asian Games, tapi gue nggak masuk. Bastard banget nggak itu?” lanjut peraih emas Olimpiade Athena 2004 itu lantas tertawa.
“Ujungnya sih gue dapet, lari di Bandung cuma 100 meter. Tapi ekspektasi gue adalah ini (Indonesia, red) tuan rumah. Sori gue boleh sombong di sini, olahragawan di Indonesia siapa sih yang punya prestasi?” ucap Taufik. “Nggak banyak,” timpal Deddy. “Karena beda baju loh,” lanjut Taufik.
Saat itu, Taufik memang mencoba terjun ke arena politik. Dia menjadi salah seorang anggota calon legislatif Partai Demokrat. Sempat masuk dalam daftar calon sementara, nama Taufik terpental dari list caleg Daerah Pemilihan Jawa Barat II. Pada awal 2018, Taufik memang bergabung dengan Partai Demokrat.
Dalam opening ceremony Asian Games 2018 yang berlangsung pada 18 Agustus di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta itu, terdapat enam pembawa obor. Masing-masing sosok mantan atlet, mewakili satu cabang olahraga.
Yang membuka adalah Lanny Gumulya peraih emas Asian Games 1962 dari cabang olahraga loncat indah. Lanny lantas menyerahkannya kepada Arief Taufan, karateka peraih emas Asian Games Bangkok 1998.
Setelah itu, penerima obor Asian Games adalah Yustedjo Tarik (emas tenis Asian Games 1982) dan Supriati Sutono (emas atletik Asian Games 1998). Dua nama terakhir adalah I Gusti Made Oka Sulaksana (emas windsurfing Asian Games 2002), dan Susy Susanti yang akhirnya menjadi sosok penyulut obor.
Pada konteks ini, Susy adalah representasi bulu tangkis. Dalam keterangan resmi di pembukaan malam itu, Susy terpilih karena prestasinya sebagai peraih emas Olimpiade Barcelona 1992.
Taufik sendiri adalah peraih emas bulu tangkis tunggal putra pada Asian Games 2002 di Busan dan 2006 di Doha. Taufik juga masuk dalam tim beregu putra yang meraih emas pada Asian Games 1998 di Bangkok.
Photo
Taufik Hidayat saat berbicara di kanal Youtube Deddy Corbuzier. (Deddy Corbuzier/Youtube).
Susy yang sekarang menjadi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI mengaku heran dan tak mengerti mengapa Taufik mengungkit soal pembawa obor Asian Games 2018 itu pada saat-saat sekarang.
Susy menambahkan, dia tidak mengetahui mengapa bisa terpilih sebagai penyulut obor di opening ceremony Asian Games 2018. “Saya nggak tahu kenapa saya yang dipilih. Saya diminta oleh negara, ya saya siap-siap saja. Nggak ada pandangan politik yang beda,” kata Susy ketika dihubungi JawaPos.com Selasa (12/5).
Menurut Susy, pasti ada kriteria atlet yang dipilih oleh ketua Komite Olimpiade Indonesia sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 Erick Thohir dan perwakilan Olympic Council of Asia (OCA).
“Setahu saya, yang menyaring atlet pembawa obor itu dari tim Asia. Kayak dari IOC Indonesia, Pak Erick, sama dari OCA. Mereka juga pasti punya nama-nama atlet, background-nya seperti apa. Bukan kapasitas saya yang ingin dipilih. Seharusnya yang bersangkutan (Taufik Hidayat, Red) tanyanya ke OCA, IOC. Kenapa dia tidak dipilih?” jelas Susy.
Juara Dunia 1993 tersebut menambahkan bahwa dia enggan mengomentari kata-kata pedas Taufik yang menyebut PBSI adalah organisasi yang kusut.
“Itu bukan kapasitas saya untuk menanggapi. PBSI organisasi ada aturannya, tugas saya fokus kerja mencetak prestasi untuk Indonesia. Kalau urusannya berkaitan dengan prestasi, baru itu tanggung jawab saya. Biar masyarakat yang melihat sukses atau tidaknya prestasi bulu tangkis Indonesia,” ucap Susy.
Dihubungi terpisah, mantan Humas Indonesian Asian Games Organizing Committee (INASGOC) M. Danny Buldansyah mengungkapkan bahwa pemilihan pembawa obor opening Asian Games 2018 memiliki proses yang panjang.
Pemilihannya juga mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya adalah tingginya dedikasi mantan atlet kepada olahraga.
“Yang menilai juga banyak, ada dari komite INASGOC, Kemenpora, ada juga dari pemerintahan, kemudian dikomunikasikan mana yang layak untuk membawa obor opening. Ada kriterianya juga, seperti atlet yang tidak ada kontroversi. Maksud saya, bisa diterima di masyarakat. Menurut kami tidak ada pandangan politik yang beda,” ucap Danny.
Sementara itu, mantan Sekretaris Jenderal INASGOC Eris Herryanto mengakui pihaknya tidak mengetahui mengapa tidak ada nama Taufik Hidayat saat opening ceremony AG 2018.
Namun, Eris memastikan bahwa Taufik ikut membawa obor saat pawai Asian Games 2018 di Bandung, Jawa Barat.
“Ada ratusan orang yang membawa obor Asian Games, baik dari atlet, kepala daerah, hingga artis. Saat di Bandung, Taufik pernah bawa obor. Nah, saya nggak tahu kenapa Taufik tidak tercantum di opening Asian Games. Waktu itu kan dia jadi staf Kemenpora,” kata Eris ketika dihubungi via telepon oleh JawaPos.com.
Namun, Eris memastikan bahwa tidak terpilihnya Taufik sebagai salah seorang pembawa obor opening ceremony Asian Games 2018 sama sekali bukan berlandaskan muatan politik.
Eris menambahkan, ketika membawa obor ke Istana, INASGOC bersama ketua institusi lainnya mendaftar siapa saja atlet yang berprestasi di Olimpiade dan Asian Games. Mereka ini lantas dipilih sebagai kandidat pembawa obor pada acara pembukaan.
“Kami kumpulkan nama-nama olahragawan yang berprestasi dan meninjau beberapa aspek. Kenapa dipilih Susy Susanti, karena beliau ambassador Asian Games dan langsung dipilih juga oleh Pak Jusuf Kalla saat jadi wapres. Saya tegaskan sekali lagi, pemilihan ini tidak ada kaitannya dengan politik,” tandas Eris.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
