Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 November 2015 | 14.20 WIB

Bapak Offside Indonesia itu Telah Pergi Selama-lamanya (2/Habis)

Menpora Imam Nahrawi (kiri kedua), didampingi adik Sinyo, Lauren Aliandoe (kanan kedua), anak bungsu Sinyo, Theodurus Aliandoe (kiri) dan Mantan Pemain Bola Yohanes Auri (kanan) mendatangai Rumah Duka Mantan pemain dan pelatih tim nasional sepak bola Indo - Image

Menpora Imam Nahrawi (kiri kedua), didampingi adik Sinyo, Lauren Aliandoe (kanan kedua), anak bungsu Sinyo, Theodurus Aliandoe (kiri) dan Mantan Pemain Bola Yohanes Auri (kanan) mendatangai Rumah Duka Mantan pemain dan pelatih tim nasional sepak bola Indo

KELEBIHAN dari seorang Sinyo adalah kejeniusannya bertutur dalam dunia literasi. 



Taktik sepak bola yang rumit bisa dia jabarkan dengan mudah dan dituliskan dalam kolom khususnya di berbagai media nasional. 



Dalam satu tulisannya, dia memaparkan cara kerja Total Football buatan Rhinus Michael dengan analaogi yang gampang dicerca. 



"Setidaknya apa yang saya lakukan pun tak lepas dari total football ini. Inti total football setidaknya ada pada pressing," tulis Sinyo. 



Prestasinya ini yang membuat dia sering keluar-masuk sebagai pelatih tim nasional. Sayangnya dia tak pernah bisa menuai hasil dari apa yang dibangunnya. 



Sinyo lah yang membangun pondasi timnas saat kita hampir lolos ke Olimpiade 1976. Karena gagal dan kalah dari Korea Utara, dia dan Wiel Coerver pun didepak. 



Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1986, Sinyo pun mampu membuat Indonesia hampir lolos ke Piala Dunia. Tak tahan dengan cacian publik dan media, PSSI pun memecatnya. 



Siapa sangka, apa yang dibangunnya itu jadi pondasi dasar tim Indonesia saat menjuarai Sea Games 1987, setahun kemudian. 



Bertje Matulapelwa, yang dulu merupakan asisten Sinyo jadi suksesor merengkuh title itu. Pemain-pemain besar mulai dari Bambang Nurdiansyah, Rully Nere, Zulkarnain Lubis, Herry Kiswanto, hingga Ferrel Raymond Hattu dia poles dengan tekun. 



Setelah malang melintang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di sepakbola Indonesia, kemarin (18/11) Sinyo tutup usia. 



Senja hidupnya dihabiskan dengan penyakit kekurangan daya ingat yang lazim diidap orang lanjut usia. 



Tahun lalu,miris Sinyo pernah hilang selama seminggu dan ternyata di jalan karena lupa jalan pulang. 



"Bapak memang sering mengeluh jantungnya sakit. Ingatannya pun sudah cukup pikun," ucap sang anak, Theo. 



Kematian Sinyo membuat sepakbola Indonesia berduka. Terutama keluarga besar Persija Jakarta dan Arema Malang. 



Di dua klub tersebut, Sinyo pernah melatih.  Terpantau di ruang duka RS St Carolus kemarin berbagai pihak mulai berdatangan, diantaranya Sekjen PSSI, Azwan Karim dan Menteri pemuda dan olahraga, Imam Nahrawi. 

Editor: Andi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore