Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Maret 2021 | 20.37 WIB

Persebaya dan PSM yang Pakai 100 Persen Talenta Lokal, Layak Didukung

Skuad Persebaya saat memastikan juara Liga 2 2017 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung. - Image

Skuad Persebaya saat memastikan juara Liga 2 2017 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung.

JawaPos.com-”Sepak bola adalah olahraga universal. Saya menilai pemain karena kemampuannya. Bukan dari mana mereka berasal.” Itulah komentar Arsene Wenger tatkala dihujani kritik lantaran Arsenal menurunkan skuad utama tanpa satu pun pemain Inggris.

Ya, tidak ada satu pemain Inggris pun yang turun sejak awal pertandingan tatkala Arsenal bertamu ke Fratton Park menantang Portsmouth pada 30 Desember 2009. Lebih gila lagi, lawannya juga turun tanpa satu pun pemain Inggris.

Sejarah pun mencatat laga itu sebagai pertandingan Premier League tanpa satu pun starter pemain Inggris. Miris. Tapi, tidak ada yang salah dari itu. Toh, ini sepak bola profesional dan dibenarkan regulasi. Apakah Wenger keliru dengan keputusannya? Tentu tidak.

Jauh sebelum itu, Chelsea terlebih dulu melakukannya. Pada boxing day satu dekade sebelumnya, The Blues menurunkan 11 pemain utama tanpa satu pun berkewarganegaraan Inggris. Bahkan, sang pelatih juga bukan orang Inggris.

Keputusan Gianluca Vialli sebagai pelatih Chelsea saat itu tidak keliru juga. Aturan membolehkan. Sama halnya dengan Wenger. Lagipula Vialli dan Wenger tidak punya urusan dengan prestasi timnas Inggris. Vialli orang Italia dan Wenger dari Prancis.

Dalam sepuluh edisi terakhir Piala Dunia, Italia tiga kali tembus final dan dua kali juara. Prancis juga sama. Tiga kali tembus final dan dua kali juara. Bagaimana dengan Inggris? Tampaknya sudah lupa caranya mencapai laga puncak Piala Dunia.

Meski begitu, urusan bisnis sepak bola, Inggris memang terdepan saat ini. Sejak era Premier League, negara itu menjadi pusat percontohan bagaimana kompetisi dijalankan dan mengeruk pundi-pundi uang.

Klub-klubnya sejahtera.

Sekali lagi ingin saya tegaskan, tidak ada yang keliru dengan keputusan Vialli maupun Wenger. Sama seperti tidak ada yang keliru ketika klub-klub Indonesia bergantung kepada bek tengah asing atau striker-striker asing. Semuanya sesuai regulasi.

Namun, coba kita melihat dari perspektif berbeda. Bagaimana kalau mengandalkan talenta lokal? Bagaimana kalau memaksimalkan potensi dari akademi? Athletic Bilbao bisa eksis dengan para pemain berdarah Basque. Barcelona pernah berjaya di era para alumni La Masia.

Mungkin terlalu ekstrim apa yang dilakukan Athletic Bilbao, tapi masih mungkin dilakukan di klub Indonesia. Kalau urusan potensi akademi atau talenta lokal jadi tulang punggung klub layaknya Barcelona, di Indonesia juga sudah banyak contoh.

Saya terkesan dengan Persipura Jayapura saat juara pada 2005. Tanpa mengesampingkan skuad juara mereka di ISL pada 2008-2009, skuad 2010-2011, dan skuad 2013. Juga skuad juara ISC A pada 2016. Juga terkesan dengan Persebaya Surabaya saat juara Liga 2 2017.

Ada beberapa contoh lain yang sebenarnya bisa disebut, tapi coba kita perhatikan dua klub ini. Kita mulai dari Persipura 2005 yang mengandalkan generasi emas PON 2004 seperti Boaz Solossa, Korinus Fingkrew, Ian Kabes, Christian Worabay.

Pelatih Rahmad Darmawan ketika itu memadukan mereka dengan pemain senior seperti Jack Komboy, Mauly Lessi, dan dipimpin Eduard Ivakdalam. Tentu saja ada beberapa pemain non-Papua dan pemain asing dalam tim.

Tanpa mengesampingkan kontribusi pemain asing seperti Victor Igbonefo, Cristian Lenglolo, dan Erick Mabenga, talenta lokal Papua adalah tulang punggung Persipura. Hebatnya, hingga kini Persipura tidak kehabisan talenta muda di setiap musimnya.

Lalu bagaimana dengan skuad Persebaya saat juara Liga 2 2017. Kombinasi jebolan kompetisi internal Persebaya, rekrutan dari pelatih Iwan Setiawan, dan talenta Papua yang didatangkan pada era pelatih Alfredo Vera. Beberapa di antara pemain skuad juara itu masih bertahan.

Tidak perlu menyebut satu persatu jebolan kompetisi internal saat Persebaya promosi ke Liga 1. Perhatikan saja daftar pemain yang pernah menyandang ban kapten. Mereka antara lain, Rendi Irwan, Misbakus Solikin, Rachmat ”Rian” Irianto, Adam Maulana, dan Dimas Galih.

Selain mereka, hanya Fandry Imbiri pemain non-jebolan kompetisi internal Persebaya yang sempat jadi kapten. Fakta yang menunjukkan betapa para pemain dari jebolan kompetisi internal menjadi tulang punggung utama dalam tim.

Lalu sekarang ada Piala Menpora 2021. Persebaya, PSM, dan Barito Putera memastikan menggunakan talenta lokal untuk bermain di turnamen pramusim. Terlepas dari penghematan, keputusan itu layak mendapatkan dukungan.

Saya teringat akan obrolan dengan beberapa rekan di redaksi Jawa Pos pada akhir 2016. Bahasan kami adalah, akan keren apabila saat Persebaya nanti kembali berkompetisi, mereka hanya mengandalkan jebolan kompetisi internal atau paling banter talenta Jawa Timur.

Persebaya akhirnya kembali berkompetisi pada 2017. Memang, tidak semata-mata mengandalkan talenta jebolan kompetisi internal, tapi mereka jadi tulang punggung. Kini, peluang mewujudkan obrolan itu terbuka lebar. Sebab, rekan-rekan saya itu kini bagian dari manajemen Persebaya.

Pada era sepak bola profesional, tentu semua menginginkan talenta terbaik berada dalam timnya. Asal-usul nomor sekian. Namun, saya percaya, talenta lokal binaan klub, punya mentalitas dan kecintaan berbeda dengan pemain yang tak memiliki keterikatan itu. (*)

Ilhamzada adalah Milanisti yang sedang menanti terbitnya buku pertama berjudul Pesta, Bola, dan Cerveja

Editor: Ainur Rohman
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore