Nasib Peter De Roo makin tak jelas usai Persis Solo ditekuk Persebaya Surabaya di pekan ke-11. (Persis Solo)
JawaPos.com — Terperosok ke zona degradasi membuat posisi pelatih Persis Solo, Peter De Roo, berada di ujung tanduk. Kekalahan dari Persebaya Surabaya pada pekan ke-11 Super League akhir pekan kemarin menjadi titik krusial yang memicu gelombang desakan pemecatan dari suporter.
Persis Solo yang datang dengan ambisi bangkit justru kembali pulang tanpa poin. Performa yang tak kunjung membaik menambah panjang daftar hasil minor yang mereka derita di musim ini.
Hingga pekan ke-11, Persis baru membukukan satu kemenangan, dua hasil imbang, dan tujuh kekalahan dari sepuluh pertandingan yang dilalui.
Hasil tersebut membuat Laskar Sambernyawa hanya mengoleksi lima poin dan terjerembab di posisi ke-17, atau satu strip di atas dasar klasemen.
Kondisi ini jauh dari harapan publik Solo yang semula menargetkan tim tampil kompetitif sejak awal musim. Suporter kini mulai kehilangan kesabaran dan menuntut respons tegas dari manajemen.
Dalam lima laga terakhir, Persis hanya mampu meraih satu poin. Rentetan kegagalan tersebut memperkuat rasa frustrasi di kalangan pendukung yang merasa performa tim stagnan dan minim progres.
Peter De Roo pun tak lagi berada dalam posisi aman. Desakan untuk segera mendepaknya mulai terdengar lantang di berbagai lini, baik dari stadion hingga media sosial.
Pelatih asal Belanda itu memilih untuk tetap tenang menanggapi tekanan yang mengarah padanya. Ia menyerahkan seluruh keputusan terkait masa depannya pada manajemen klub.
“Jadi pada dasarnya pertanyaanmu adalah apakah saya berpikir pemecatan itu akan terjadi? Saya tidak tahu. Keputusan itu bukan saya yang membuat, dan bukan terserah saya,” ujarnya dengan nada datar ketika ditanya mengenai nasibnya.
Menurut De Roo, persoalan utama Persis terletak pada penyelesaian akhir. Ia menilai para pemain sebenarnya mampu menciptakan peluang, tetapi momentum tersebut kerap hilang akibat penyelesaian yang tidak efektif.
Para penyerang yang gagal mengonversi peluang menjadi gol menjadi isu yang berulang. Situasi itu kerap membuat permainan Persis terlihat buntu meski sudah menyusun serangan dengan baik sejak lini tengah.
Kondisi fisik dan mental pemain pun menjadi sorotan. Kekalahan bertubi-tubi membuat rasa percaya diri perlahan terkikis sehingga memengaruhi ketenangan ketika menghadapi situasi penting di depan gawang.
Sementara itu, suporter menilai persoalan tim tidak sekadar soal finishing. Mereka merasa Persis kurang memiliki karakter permainan yang kuat serta tidak menunjukkan progres yang jelas dari laga ke laga.
Tekanan tersebut membuat manajemen berada di persimpangan sulit. Di satu sisi mereka ingin memberi waktu agar tim menemukan ritme, namun di sisi lain tuntutan suporter kian tak terbendung.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
