
Mihailo Perovic saat berlatih bersama Persebaya Surabaya. (Media Persebaya)
JawaPos.com—Sulitnya pemain Eropa bersinar di Super League menjadi cerita menarik yang mewarnai kompetisi musim ini. Striker Persebaya Surabaya Mihailo Perovic menjadi salah satu contoh nyata dari kesulitan itu. Dia baru mencetak satu gol hingga pekan ketujuh.
Super League 2025/2026 sudah memasuki pekan ke-7 dengan atmosfer persaingan yang semakin ketat. Namun, dominasi masih dipegang oleh para pemain Amerika Latin yang tampil menonjol lewat gol dan assist mereka.
Pemain-pemain dari Brasil dan Argentina terlihat sangat nyaman beradaptasi dengan permainan di Liga Indonesia. Mereka menjadi motor serangan klub-klub besar dengan kontribusi gol yang jauh lebih tinggi dibandingkan pemain Eropa.
Data menunjukkan, Brasil menjadi negara penyumbang gol terbanyak di Super League musim ini. Dari 67 pemain yang tampil, total 56 gol dan 30 assist berhasil mereka ciptakan hingga pekan ketujuh.
Argentina yang hanya diwakili delapan pemain pun mampu memberi kontribusi signifikan. Mereka sudah mengemas 10 gol dan 6 assist dengan torehan mencolok dari beberapa striker andalan.
Kondisi berbeda dialami para pemain Eropa yang masih kesulitan menembus kerasnya persaingan Super League. Mereka belum bisa memberikan dampak signifikan, bahkan beberapa nama besar justru minim kontribusi.
Belanda menjadi negara Eropa dengan catatan gol terbanyak sejauh ini, yaitu enam gol. Portugal dan Spanyol masing-masing mengoleksi lima gol, sementara Montenegro hanya mencatat empat gol.
Meski ada beberapa pemain yang bisa mencatatkan namanya di papan skor, secara keseluruhan torehan itu masih jauh dari ekspektasi. Apalagi jika dibandingkan dengan para pemain Amerika Latin yang produktif di lini depan.
Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah kiprah pemain asal Montenegro. Dari lima nama yang merumput di Super League, hanya Boris Kopitovic yang mampu tampil menonjol bersama Bali United dengan koleksi tiga gol.
Mihailo Perovic bersama Persebaya Surabaya sejauh ini baru menyumbang satu gol dari enam penampilan. Catatan ini jelas belum sepadan dengan nilai kontraknya yang mencapai Rp 4,35 miliar.
Rekan senegaranya, Slavko Damjanovic, sebagai bek juga belum berhasil mencetak gol meski sudah tujuh kali turun membela Bhayangkara Presisi Lampung FC. Begitu pula dengan Dejan Racic dan Milos Raickovic yang masih nihil gol bersama Persita Tangerang dan Persebaya Surabaya.
Situasi ini menunjukkan pemain Eropa membutuhkan adaptasi lebih panjang. Mereka masih terlihat kesulitan menemukan ritme permainan yang sesuai dengan gaya sepak bola Indonesia.
Mihailo Perovic sendiri mengakui bermain di Super League bukanlah perkara mudah. Dia menyebut kualitas liga jauh lebih baik dari yang dibayangkan sebelum datang ke Indonesia.
Menurutnya, tekanan dari pertandingan ke pertandingan membuat mereka harus terus berkembang. Mihailo Perovic juga menegaskan para pemain Eropa akan bekerja keras untuk bisa menunjukkan kualitas terbaik mereka.
“Sulit untuk mengatakan tidak, bermain sepak bola di sini memang tidak mudah. Kualitas liganya sangat bagus. Tidak seperti yang kami harapkan ketika kami datang ke sini,” ujar Mihailo Perovic.
