Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Maret 2024 | 20.48 WIB

Dedikasi Yongki Kastanya, Legenda Persebaya Surabaya Era 80-an yang Sempat Dipaksa Bermain di Semifinal Walau Sedang Sakit

DEDIKASI: Yongki Kastanya (paling kanan) terkenal dengan dedikasi dan loyalitasnya di Persebaya Surabaya sehingga membuatnya jadi legenda Green Force are 80-an. (Apridio Ananta/JawaPos) - Image

DEDIKASI: Yongki Kastanya (paling kanan) terkenal dengan dedikasi dan loyalitasnya di Persebaya Surabaya sehingga membuatnya jadi legenda Green Force are 80-an. (Apridio Ananta/JawaPos)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya telah melalui beragam era gemilang sepanjang sejarahnya, dan salah satu periode yang tak terlupakan adalah era 1980-an.

Di masa itu, ada sosok yang begitu mencolok dan meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Green Force, yakni Andreas Johanes Kastanja, atau lebih dikenal dengan Yongki Kastanya.

Lahir dari tanah Ambon, Yongki Kastanya adalah salah satu legenda Persebaya Surabaya yang berhasil menancapkan namanya dalam ingatan para Bonek.

Pada musim kompetisi Perserikatan 1987-1988, Yongki Kastanya bersama Persebaya Surabaya meraih gelar juara setelah mengalahkan Persija Jakarta dengan skor 3-2 di partai puncak. Keberhasilan ini menjadikan Yongki Kastanya sebagai salah satu pemain kunci dalam skuad hebat Persebaya Surabaya pada masa itu. Namun, perjalanan menuju kesuksesan tersebut tidaklah mudah.

Yongki Kastanya mengawali karier sepakbolanya di klub PSA Ambon sebelum akhirnya menarik perhatian tim internal Persebaya Surabaya, Assyabaab. Dengan bakat alami yang dimilikinya, Yongki Kastanya berhasil masuk dalam seleksi tim Assyabaab dan akhirnya berkesempatan untuk bermain di Surabaya.

Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda, Yongki Kastanya mampu beradaptasi dengan baik di tengah lingkungan yang mayoritasnya berasal dari etnis Arab dan beragama Islam.

"Awal mulai saya belajar main bola sejak SD dan SMP dengan berlatih sendiri. Kebetulan di depan rumah ada stadion Mandala Remaja. Lalu saya gabung dengan tim milik orang tua Rochi Putiray kelas 1 SMP tahun 1978," ujar Yongki Kastanya dalam kanal YouTube Omah Balbalan.

"Awal latihan hanya lari-lari, tendang-tendang bola, belum dilatih seperti posisi pemain, tidak seperti sekarang. Lalu masuk PSA Ambon kelas 3 SMP, lawan Assyabaab yang lagi tur ke Ambon. Sekaligus pintu masuk saya ke Surabaya. Mungkin melihat saya potensial, untuk itu harus ke Jawa (Surabaya)," imbuhnya.

"Saya sempat bertanya dalam hati apakah pas ada di tim ini? Ternyata banyak orang arab-arab dari Ambon yang secara dialek sama dengan tempat tinggal saya. Jadi tidak merasa jauh atau asing, meski secara iman kita berbeda. Saya harus bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri sebagai pendatang," lanjutnya.

"Pernah ditunjuk sebagai kapten Assyabaab saat kompetisi internal Surabaya. Setiap bulan Ramadhan saya juga harus menyesuaikan, dan ikut puasa," ungkap Yongki Kastanya.

Berpindah ke Persebaya Surabaya, Yongki Kastanya terus menunjukkan kemampuan dan dedikasinya sebagai seorang gelandang yang disegani. Meskipun menghadapi beberapa cobaan, seperti absen bermain pada musim 1985/1986, Yongki Kastanya tetap tegar dan terus berjuang untuk membela warna Persebaya Surabaya. Keberanian dan semangatnya menjadi inspirasi bagi rekan-rekan setimnya.

Kenangan pahit yang sulit dilupakan Yongki Kastanya terjadi pada musim 1987, saat dia dipaksa bermain di semifinal Perserikatan meskipun sedang sakit. Meskipun berhasil lolos ke final, Yongki Kastanya harus menyerah pada kondisi tubuhnya dan absen di pertandingan puncak melawan PSIS Semarang.

Meski demikian, kenangan itu tidak mengurangi penghargaan terhadap dedikasi dan perjuangan Yongki Kastanya dalam membela Persebaya Surabaya.

"Saya kelelahan, panas tinggi sebelum lawan PSM di semifinal. Saya dipaksa main walau sedang sakit, kami lolos ke final, tapi saya ke rumah sakit. Meski kalah di final dari PSIS, saya menebusnya tahun berikutnya dengan gelar juara," kenang Yongki Kastanya kala itu.

Kisah Yongki Kastanya adalah cerminan dari semangat juang dan loyalitas yang melekat pada para pemain legendaris Persebaya Surabaya. Meskipun telah berlalu puluhan tahun, namun kenangan akan kontribusi dan prestasinya tetap hidup dalam ingatan para Bonek.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore