Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Desember 2023 | 11.18 WIB

Diskusi Turun Minum: Stop Dikotomi Pemain Naturalisasi dan Lokal

 

PSSI Pers menyelenggarakan Diskusi Turun Minum bertema Naturalisasi Pemain, Mereduksi atau Memotivasi.

JawaPos.com–Program naturalisasi pemain kembali gencar dilakukan PSSI dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan tersebut kini menimbulkan dikotomi antara pemain lokal dan naturalisasi.

PSSI mulai gencar melakukan program naturalisasi pada 2010. Ketika itu Cristian Gonzales menjadi pemain asing yang diubah kewarganegaraan.

Setelah sempat terhenti, program itu mulai dilakukan kembali sejak Shin Tae-yong duduk di kursi pelatih skuad Garuda pada akhir 2020. Bedanya, pemain yang dinaturalisasi memiliki darah Indonesia.

Nama-nama seperti Sandy Walsh, Jordy Amat, Shayne Pattynama, Rafael Struick, Ivar Jenner, hingga Justin Hubner, termasuk dalam daftar pemain keturunan yang telah resmi menjadi WNI. Sementara Jay Idzes, Nathan Tjoe-A-On, hingga Ragnar Oratmangoen masih dalam proses mendapatkan paspor hijau.

Namun rajinnya PSSI menaturalisasi pemain keturunan menimbulkan pro dan kontra. Ada yang mendukung, tapi tak sedikit yang menolak.

Hal itu yang mendasari PSSI Pers menyelenggarakan Diskusi Turun Minum bertema Naturalisasi Pemain, Mereduksi atau Memotivasi. Acara menghadirkan Arya Sinulingga (Exco PSSI), Hamdan Hamedan (Tenaga Ahli Kemenpora bidang Diaspora dan Kepemudaan), Tommy Welly (Pengamat), dan Richard Achmad (Sekjen PNSSI) sebagai pembicara. Diskusi berlangsung di Media Center Kemenpora, Jakarta Pusat, Kamis (21/12).

Empat narasumber bertukar pikiran membahas polemik itu dalam acara yang didukung BRI, Kemenpora, PT Liga Indonesia Baru (LIB), PSSI, TEAK Coffee, dan SSB Soejasch. Hamdan Hamedan menilai, penyebutan pemain keturunan atau naturalisasi tak relevan lagi saat yang bersangkutan sudah memiliki paspor Indonesia.

”Naturalisasi ini kata benda, yaitu proses hukum yang dilakukan seseorang untuk mengubah status kewarganegaraan dari WNA menjadi WNI. Jadi frasa pemain naturalisasi itu sebetulnya tidak tepat karena belum eligible, masih proses,” kata Hamdan Hamedan.

”Tetapi ketika seseorang itu sudah berhasil dinaturalisasi, disumpah dan menandatangani sumpah, dia sudah menjadi warga negara Indonesia (WNI)  dan mempunyai kesamaan dalam hukum dan pemerintahan,” tambah dia.

Hamdan Hamedan juga menolak anggapan miring sejumlah pihak terkait motif pemain keturunan mau dinaturalisasi. Banyak yang menilai hal itu dianggap karena mereka tak mampu bersaing untuk memperkuat timnas negara asal.

”Ada pemain grade A yang bermain di salah satu klub terbaik di dunia, dia ingin membela Indonesia. Dia mengatakan, saya ingin sekali membela Indonesia,” ucap Hamdan.

Hal tak jauh berbeda juga diungkapkan Arya Sinulingga. Dia secara tegas menolak dikotomi pemain naturalisasi dan lokal.

”Dikotomi ini harus diselesaikan sekarang, istilah local pride, atau anti-naturalisasi harus dihentikan. Naturalisasi hanya proses, tapi sepanjang dia punya darah (Indonesia), dia berhak mewakili bangsa kita,” kata Arya Sinulingga.

Pandangan berbeda diungkapkan Tommy Welly. Dia menyoroti sisi lain dari gencarnya PSSI melakukan naturalisasi pemain keturunan.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore